- REUTERS/Yves Herman
Suasana sahur di Universitas Islam Rusia
Dia menjelaskan, Islam sudah masuk ke Rusia pada abad ke-7 di zaman kalifah pertama. Berbeda dengan negara-negara Eropa, dalam konteks komunitas Muslim, di Rusia ada delapan negara bagian yang penduduknya mayoritas Muslim antara lain Tatarstan, Magorstotan dan Chechnya. “Kalau imigran hampir enggak ada. Itu penduduk Rusia di delapan negara bagian itu,” lanjutnya.
Dubes Wahid menjelaskan, bahwa perkembangan Islam cukup kondusif di negara tersebut. Buktinya, kata dia, pemerintahan Vladimir Putin juga merestui pembangunan masjid hingga 40 dalam setahun. Selain itu masyarakat di sana juga cukup toleran menerima komunitas Muslim.
Dia bercerita, bahwa corak kehidupan Muslim di Rusia tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Selama 2,5 tahun tinggal di Rusia, dia mengatakan belum pernah mendengar adanya insiden gangguan dan perundungan terhadap perempuan berjilbab. Diketahui bahwa kejadian sejenis secara acak kadang dialami oleh Muslim wanita di negara-negara Eropa.
“Bahkan masjid di Rusia justru berkembang di era Putin. Sampai sekarang sudah ada 6500 masjid, pemerintah sangat mendukung. Saya sudah berkeliling ke 20 negara bagian yang mayoritas Muslim. Bahkan ada negara bagian yang penduduk Muslim sedikit tapi ada masjid, itu di Tomsk,” ujar Dubes Wahid menjelaskan.
Mantan Dubes RI untuk Uni Emirat Arab itu menegaskan, bahwa Rusia bukan lagi Uni Soviet. Yang berkuasa era saat ini bukanlah Partai Komunis namun United Rusia. Saat negara itu bernama Uni Soviet, salat atau menjalankan kegiatan ibadah lain memang dilarang sehingga harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Soviet bubar, pertumbuhan agama makin pesat dan yang paling menonjol adalah Islam.
Asimilasi
Bertumbuhnya populasi Muslim di berbagai belahan Eropa menjadi salah satu perhatian baik dalam kajian studi maupun praktik kebijakan. Terlepas dari adanya isu diskriminasi dan sulitnya imigran beradaptasi di negara “baru” mereka, muncul pula belakangan riset soal kemauan komunitas muslim itu positif pada asimilasi yaitu pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan adanya bagian yang hilang dari ciri khas kebudayaan asli demi membentuk kebudayaan baru.
