- ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Politikus PKS, Mardani Ali Sera, sependapat jika PT dinaikkan. Sebab, menurut dia, presidential itu semestinya sistem multi partai yang sederhana. Saat ini, banyak parpol yang memiliki pesan yang tidak jelas dan tidak banyak perbedaan sehingga akhirnya tenggelam.
“Nanti mau pilpres bareng sama pileg kalau partainya cuma tiga, dan tiga-tiganya kelaminnya jelas maka itu akan menarik publik,” ujarnya.
Menurut Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno, sebuah parpol yang memiliki eksistensi di DPR itu harus mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakat. “Jadi PT 4 persen saya kira oke lah. Saya kira fair lah itu,” ujarnya.
Namun, menurut dia, tak cukup hanya dua atau tiga partai saja yang berkuasa. Jika terkait sistem kepartaian, harus ada partai besar dan kelas menengah. Sebab, partai menengah ini bisa menjadi representasi dari kelompok masyarakat yang tidak bisa ikut dalam arus besar politik.
“Karena belum tentu tiga atau empat partai yang tersisa setelah peningkatan threshold itu memiliki platform partai yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh konstituen,” ujar Eddy.
Jumlah Partai Ideal
Partai yang ikut Pemilu 2024 nanti, Refly mengusulkan, seharusnya ada dua kategori. Pertama adalah partai yang lolos ambang batas parlemen sekarang.
Kedua, yang tidak lolos PT itu tidak boleh ikut pemilu nasional dulu, tetapi ikut pemilu DPRD provinsi, kabupaten/kota. Dengan demikian, tidak ada partai baru tiba-tiba ikut pemilu tanpa diketahui berakar di massa atau tidak.
Refly memperkirakan, jumlah partai yang ideal untuk konteks keindonesiaan yaitu 5 sampai 7 partai. Polarisasinya yaitu, partai kanan berbasis massa Islam, partai kiri yang nasionalis, partai tengah yang non ideologis, partai agak kanan dan agak kiri. “Jadi 5 partai cukup,” ujarnya.
Pakar Tata Negara Refly Harun
Ada nilai plus dan minus dari jumlah partai banyak. Menurut Titi, jika parpol beragam akan lebih bisa mewadahi pilihan dan ekspresi politik warga negaranya. Namun jika tidak diimbangi kedewasaan politik, bisa membuat politik begitu gegap gempita atau malah gaduh. Akhirnya malah bisa berakibat pada kejenuhan masyarakat.
