SOROT 578

Jejak Dwifungsi ABRI

Gladiresik HUT TNI ke 74 di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta
Sumber :
  • VIIVAnews/Anwar Sadat

“Itu (Dwifungsi ABRI) dijadikan sebagai cantolan untuk memperkuat kepentingan penguasa atau TNI waktu itu,” ujarnya kepada VoxPopnews, Jumat, 8 November 2019.

img_title Ternyata Gelar Kehormatan Istri Jenderal Dudung sama dengan Megawati

Ridwan menjelaskan, Dwifungsi ABRI merupakan konsep yang bermula dari gagasan “jalan tengah” dari Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution. Konsep itu dioperasionalkan oleh Soeharto, dalam menjalankan pemerintahannya.  

Soeharto dicuplikan video PSI.Presiden Soeharto

img_title KSAD Dudung Dapat Gelar Kehormatan Luar Biasa dari Wali Nangroe Aceh

Konsep utama Dwifungsi ABRI diberikan oleh Orde Baru melalui pemberian akses sangat luas bagi tentara, untuk terlibat dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan alasan stabilitas nasional, mereka menduduki jabatan strategis pada posisi-posisi sipil seperti gubernur, bupati, menteri, BUMN, hingga BUMD.

“Bahkan secara ekstrem dalam pelbagai diskursus saat itu, tidak ada posisi yang tidak dimasuki oleh tentara," kata dia.

img_title Wakasad Letjen TNI Agus Turun Gunung Tinjau Serbuan Vaksinasi di Jabar

"Sipil bahkan dianggap sebagai entitas yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Hal itu muncul akibat dominasi dan sikap superior yang ditunjukkan oleh tentara kala itu,” kata Ridwan.

Mahasiswa menilai, saat itu, ada yang tidak sinkron antara teori dan praktik demokrasi yang berkembang. Ketika itu, supremasi sipil sebagai ciri dari demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Kemudian, hukum sebagai panglima dari sebuah negara yang mengaku berasaskan hukum, bukan kekuasaan, tidak juga berjalan sesuai koridor yang digariskan oleh konstitusi.

Ilustrasi TNIIlustrasi TNI

Menurut dia, tabiat tentara yang militeristik dan antidialog, sebagaimana ciri masyarakat demokratis, tentu bertolak belakang. Tentara yang digariskan menjadi penjaga kedaulatan dan keamanan negara dari rongrongan asing, malah menjadi penjaga modal dan kekuasaan. 

Saat itu, sulit memisahkan antara tentara dan politikus. Sebab, salah satu unsur dari konsep Dwifungsi ABRI adalah kekaryaan dengan menjadi penopang Partai Golkar. 

“Itulah kemudian reformasi menempatkan isu Dwifungsi ABRI menjadi salah satu yang pokok untuk dihapuskan,” kata Ridwan.

Militer dalam Sosial Politik Wajar

Keterlibatan militer dalam politik, khususnya dalam Golkar, seperti dikutip dari buku “Reformasi TNI Perspektif Baru Hubungan Sipil-Militer di Indonesia” karya Yuddy Chrisnandi, ditunjukkan dengan adanya lembaga tiga jalur yaitu ABRI, Birokrasi, dan Golkar (jalur ABG). Hal itu untuk menentukan sejumlah nama yang akan masuk ke lembaga legislatif.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut