- ANTARA/R. Rekotomo
Bimax baru "dipoles" tahap awal dan belum beroperasi sempurna. Untuk itu, robot humanoid ini akan terus dilanjutkan dan dikembangkan lagi oleh mahasiswa Binus lainnya. Tujuannya agar dapat menyempurnakan dan dikomersialkan dalam tiga tahun ke depan.
Bicara soal teknologi, robot Bimax terdiri atas dua sistem, yaitu robot system dan raspberry pi system. Robot system berguna untuk sistem pergerakan motor, sedangkan raspberry pi system bertujuan untuk sistem kendali robot.
Secara singkat, cara kerja robot ini adalah pertama-tama robot akan mendeteksi wajah user, kemudian terjadi proses training pengenalan wajah. Setelah itu, raspberry pi system mengirimkan sinyal ke pengendali robot untuk menggerakkan motor robot.
Pada proses ini lah, robot Bimax akan membaca sinyal yang masuk dan kemudian memberikan respons kepada user serta mengucapkan salam.,
Minim Dukungan
Jika mahasiswa sudah punya kemampuan membuat robot humanoid, sayangnya di bagian hulu, pemerintah mengakui tidak punya program dan fokus khusus untuk pengembangan robot mirip manusia tersebut.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan, secara prinsip, pemerintah mendukung pengembangan humanoid. Tapi, dukungan itu masih dalam tahap pembiayaan pembuatan robot agar menang dalam sebuah kompetisi.
Nasir bahkan mengatakan, kementeriannya sudah mengalokasikan dana khusus untuk pengembangan robot di perguruan tinggi.
"Anggaran dari perguruan tinggi itu sudah BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) sudah kami alokasikan. Jadi, tinggal kembangkan. Kalau bisa juara, butuh pembiayaan lain akan keluarkan pembiayaan (lagi)," kata dia ditemui VoxPop.co.id usai Raker dengan Komisi X di DPR RI, Rabu malam 19 April 2016.
Salah satu wujud sokongan pemerintah dalam pengembangan, kata dia, adalah dalam pengembangan robot Bimax dan robot pemadam api karya Unissula.
Belum adanya program yang fokus untuk robot humanoid diakui oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Alasannya, pangsa robot mirip manusia ini terbilang kecil dan belum mendesak diperlukan. Selain itu, robot humanoid belum bisa berkontribusi dalam dunia industri.
"Humanoid itu banyaknya advance research. Kita, Indonesia, mungkin belum lah. Belum punya urgensi untuk mengembangkan robot humanoid ini," ujar Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material, BPPT, Hamman Riza.
