SOROT 425

La Nina Menikam Perut

Petugas TNI mencari korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Wahyu Putro A
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

"Kemungkinan tahun 2017 terjadi penurunan kejadian bencana hidrometeorologi. Tapi, kalau bencana geologi, kami tidak bisa memprediksi atau memperkirakannya secara pasti. Karena gempa, tsunami itu kami tidak bisa prediksi," kata Sutopo.

img_title Adam Suseno dan Inul Harap Gubernur Jakarta Terpilih bisa Atasi Kemacetan Jakarta

Budaya Sadar Bencana
Lantas, apa yang harus dilakukan masyarakat untuk bersiap menghadapi bencana? Jika merujuk pada data BNPB, fakta memang menunjukkan bahwa ada tiga bencana alam yang patut menjadi prioritas publik dan pemerintah di Indonesia.

Bencana itu meliputi banjir, tanah longsor, dan puting beliung. Dan tentunya, yang paling banyak memakan korban adalah bencana banjir dan longsor. Sebab, kejadian ini sering berdampak luas dan kerap berulang.

img_title Daftar Artis Bertarung di Pilkada 2024, Ada yang Siap Jadi Gubernur hingga Bupati!

Banjir bandang Garut, sebagai bencana terdekat yang masih bisa menjadi catatan. Ditunjukkan bahwa banjir yang ditengarai oleh meluapnya Sungai Cimanuk itu terjadi pada Selasa malam, 20 September 2016.

Banjir disebabkan oleh buruknya kondisi hulu sungai. Aktivitas illegal logging, perambahan dan perubahan fungsi kawasan juga menjadi akar masalah banjir bandang Garut.

img_title Ini Jam Operasional Transjakarta, Mikrotrans, dan MRT Saat Pencoblosan Pilgub Jakarta

"Tahun 2015, kami memperoleh data kegiatan illegal logging sudah mencapai 600 hektare lahan rusak (di hulu Sungai Cimanuk)," kata Ketua Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) Garut, Mohamad Aip Rizik.

Akibat itu, kemudian di Garut tidak ada lagi daerah resapan air yang memadai ketika hujan deras melebihi normal. Air pun meruah tak tertampung lagi di sungai dan kemudian menerjang permukiman.

Dan tentunya, Aip melanjutkan, rusaknya kawasan hulu itu disebabkan buruknya kepatuhan pemerintah setempat atas penetapan kawasan yang sesuai fungsinya.

"Sebanyak 81 persen kawasan Garut adalah hutan lindung dan konservasi. Jadi harus menerima takdir, sehingga jangan sampai ada perda yang dilabrak," kata akademisi Universitas Garut Abdusy Syakur Amin.

Pendapat Sutopo, secara prinsip yang harus diwaspadai secara menyeluruh adalah upaya menata ulang ruang untuk penanganan daerah yang rawan banjir dan longsor.

Sebab, saat ini setidaknya ada 40,9 juta orang Indonesia tinggal di daerah rawan longsor dan sebanyak 60,4 juta jiwa berada di kawasan rawan banjir.

"Oke lah, katakan itu sudah telanjur, ada 40,9 juta yang tinggal di daerah rawan longsor, tapi ke depan itu kita jangan mengulang lagi dengan membiarkan masyarakat berkembang di tempat-tempat yang rawan. Artinya tata ruang harus diatur," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut