- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Sementara itu, untuk masyarakat, Sutopo pun mengingatkan agar publik perlu meningkatkan kemampuan mitigasi mereka. Sebab orang Indonesia masih belum memiliki budaya sadar bencana yang baik.
Kondisi terbaru Sungai Cimanuk di Garut, Jawa Barat. Foto: VoxPop.co.id/Diki Hidayat
Paling sederhananya, kata Sutopo, adalah dengan memperhatikan imbauan dari BMKG soal prakiraan cuaca. Sebab faktanya, banyak masyarakat justru mengabaikan soal ini.
"Ramalan cuaca BMKG semakin hari mendekati akurat. Tapi, respons masyarakat minim. Sudah tahu akan terjadi hujan lebat tapi masih keluar rumah. Nah hal-hal seperti ini yang harus diantisipasi masyarakat," kata Sutopo.
Apa pun itu, kondisi cuaca saat ini memang tak lagi seragam seperti tahun-tahun lalu. Perubahan iklim yang menyentuh seluruh dunia kini mengubah segalanya. Dampak terburuk dari itu selain bencana adalah ancaman menurunnya produktivitas tanaman pangan.
Akibatnya, perubahan kondisi cuaca dan iklim jelas akan mengganggu siklus hidup tanaman, khususnya yang berhubungan dengan pangan. Tak cuma itu, hal yang juga perlu dikhawatirkan adalah meningkatnya tren infeksi hama dan penyakit tanaman.
“Perubahan iklim dapat memicu gagal panen, karena petani kini sulit menemukan waktu yang tepat untuk menanam tanamannya, karena cuaca yang tidak menentu,” kata Kepala Research Center for Climate Change Universitas Indonesia, Jatna Supriyatna, akhir tahun lalu.
Dan sekali lagi yang paling menakutkan adalah dampak dari tidak terjaganya ketahanan pangan. Karena, jika memang prediksi tidak meleset, maka pada 2050, jumlah penduduk dunia akan mencapai 6 miliar orang termasuk Indonesia yang dihitung akan mencapai 350 juta jiwa.
Rapuhnya ketersediaan pangan jelas menjadi ancaman menakutkan. Ini ibarat La Nina atau El Nino yang kemudian menikam perut sendiri. Atas itu, kini penting bagi Indonesia untuk bersiaga menyikapi perubahan iklim tersebut.
"Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim agar produksi pangan di Indonesia tetap berlanjut mengalami peningkatan adalah melalui upaya penggunaan teknologi adaptasi," kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Pembangunan Daerah tertinggal Kedeputian Perekonomian Sekretariat Kabinet Oktavio Nugrayasa.
