SOROT 425

La Nina Menikam Perut

Petugas TNI mencari korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Wahyu Putro A
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Menurut Sutopo, berdasarkan analisis BNPB, dipastikan 95 persen kejadian bencana di Indonesia  didominasi oleh bencana Hidrometeorologi, yakni bencana yang dipengaruhi oleh cuaca seperti banjir, longsor, kekeringan, puting beliung, cuaca ekstrem, dan lain sebagainya.

img_title Megawati Senang Pilkada Jakarta Dimenangi PDIP: Gue Tunjukin Silatnya!

"Paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat," kata Sutopo.

Proses pencarian korban longsor di Karanganyar

img_title KPUD Apresiasi Kerja Polri Karena Pilkada Jakarta Kondusif tanpa Gugatan ke MK

Relawan dari SAR, TNI, Polri dan warga berusaha mencari korban longsor di Tegalsari, Bulurejo, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (30/11/2016). Foto: ANTARA/Maulana Surya

Hasil analisis menunjukkan, penyebab tingginya bencana Hidrometeorologi di Indonesia ditengarai oleh tingginya curah hujan. Bahkan, saking tingginya curah hujan pada 2016, hampir tidak terjadi masalah kemarau seperti pada 2015.

img_title Kumpulan Foto Surat Suara yang Dicoret dengan Olok-olokan, Bukan Malah Dicoblos

Kondisi yang sempat menyebabkan krisis air dan kebakaran hutan dan lahan yang hebat di sejumlah wilayah Indonesia.

"Tahun 2016, kalau bicara kejadian memang banyak. Tapi kerugian ekonominya turun. Tahun 2015, meski sedikit, tapi terjadi bencana El Nino (kemarau panjang). Kerugian mencapai Rp221 triliun," kata Sutopo.

Sejauh ini, BNPB belum merilis total kerugian akibat bencana pada 2016. Namun, diperkirakan memang jauh menurun dibandingkan dengan kerugian pada 2015 akibat El Nino.

"Kami belum mendata total. Tapi, kalau dikalkulasi, total kerugian bencana-bencana, rata-rata sekitar Rp30 triliun per tahunnya," kata Sutopo.

Prakiraan 2017
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merujuk pada kondisi cuaca pada 2016 yang didominasi hujan hingga Desember, maka sisa hujan diperkirakan masih terjadi hingga Januari dan Mei 2017.

"Puncak musim hujan akan terjadi para periode bulan Desember-Januari-Februari. Sifat hujan berada sedikit di bawah normal, artinya curah hujan pada periode tersebut sedikit lebih rendah dari kondisi normalnya," kata Kepala Bagian Humas BMKG, Hary Tirto.

Meski begitu, Tirto tetap mengingatkan bahwa sepanjang 2017, hujan dengan intensitas sedang dan durasi lama harus tetap diwaspadai. Karena, hujan tersebut dapat memicu terjadinya ancaman bencana banjir dan longsor atau bencana hidrometeorologi lainnya.

"Masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi hal ini. Pantau informasi cuaca BMKG dan peringatan dini banjir dan tanah longsor," kata Tirto.

Sementara itu, Sutopo menyebutkan, berdasarkan kebiasaan, kemungkinan pada 2017, bencana yang berkaitan dengan hidrometeorologi akan menurun. Mengingat pada 2016, La Nina memang sudah mendominasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut