SOROT 458

Kontroversi Rompi Warsito

Dr. Warsito P. Taruno menunjukkan ECCT (Electro-Capacitive Cancer Theraphy) Brain dan ECCT Breast, hasil ciptaannya bersama tim CTECH Labs Edwar Technology Company di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten.
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Muhamad Solihin

“Berarti gelombang listrik berdaya rendah juga bisa menghasilkan efek jika dipaparkan secara terus-menerus pada sel-sel kanker yang sedang membelah diri,” pikir Warsito, kala itu.

img_title Malangnya Nasib Orang-orang Cerdas di Negeri Ini

Ia sebenarnya sudah mencoba pikirannya itu. Gelombang listrik dipaparkan pada sel kanker in vitro, sel kanker yang ditumbuhkan di laboratorium. 

Hasilnya, perkembangan sel kanker tertahan. Rupanya, gelombang listrik mengacaukan pembelahan sel kanker. Mereka bisa kacau, bahkan hancur.

img_title Rumah Sakit Swasta Mulai Minati Alat Terapi Kanker Warsito

Warsito lalu nekat mengujicobakan alatnya pada Suwarni. Dalam kondisi mendesak, ia tak tega melihat kakaknya menderita. “Paling juga enggak ngaruh. Syukur-syukur kalau ngaruh,” ujarnya.

Gelombang listrik disetelnya sangat rendah, sekitar tiga volt. Warsito pun terkejut. Hasilnya di luar dugaan. Suwarni membaik setelah alat serupa rompi bergelombang listrik itu dipakai selama sebulan penuh.

img_title Gara-gara Warsito, Pemerintah Jadi Peduli

Terapi Pengobatan Kanker ECCT Dr. Warsito

Warsito Purwo Taruna (50) menciptakan alat pendeteksi kanker. (VoxPop.co.id/Muhamad Solihin)

Suwarni lalu memeriksakan sel-sel kankernya ke dokter, dan hasilnya normal. Padahal, ia didiagnosis menderita kanker payudara stadium 4. 

Awalnya Warsito tak percaya. Lantas, ia meminta Suwarni kembali memakai rompi ciptaannya. Pemindaian sel kanker kali kedua, dilakukan sebulan kemudian. Sel-sel kanker Suwarni menghilang. 

“Saya antara percaya dan tidak percaya,” kata Warsito tercengang. Kini, rompi buatan sang adik hanya sesekali dipakai Suwarni sebagai tindakan preventif. 

Temuan Warsito itu lalu makin berkembang. Dari mulut ke mulut, rompi buatan pria asal Karanganyar, Solo itu mulai tenar. Hingga pertengahan 2011, sudah ada empat orang yang memakainya.

Masing-masing mengeluhkan sakit kanker rahim, kanker serviks, kanker payudara, dan kanker paru-paru. Dengan pemakaian alat secara teratur, benjolan mereka mengempis. 

Sakit pun diklaim hilang. Alat terapi Warsito juga dipakai di sejumlah negara seperti Taiwan, China, Malaysia, India, dan Singapura.

Selanjutnya, Perlu Pembuktian

Perlu Pembuktian

Temuan alat terapi Warsito itu pun mendapat tanggapan kalangan medis. Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Nugroho Prayogo Sp.PD. KHOM, dari RS Dharmais, berkomentar soal temuan rompi terapi kanker Warsito itu.

Menurut Nugroho, pengobatan kanker itu bisa dilakukan, tapi dengan bukti yang jelas dan bagaimana mekanismenya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut