Pemerintah Libya Umumkan Gencatan Senjata,Pasukan Haftar Tak Bergeming

VoxPop Militer: Tentara bayaran memasuki Kota Sirte, Libya.
Sumber :

VoxPop – Kabar baik datang dari tanah Libya. Pemerintah Kesepakatan Nasional yang diakui PBB (GNA) baru saja mengumumkan gencatan senjata. Ini menunjukkan bahwa konflik Libya akan memasuki babak baru.

img_title Ratusan Organisasi dan Tokoh Masyarakat Teken Petisi Tolak Militer di Ranah Sipil

"Kami mengeluarkan instruksi kepada semua pasukan militer untuk segera menghentikan tembakan dan semua operasi tempur di semua wilayah Libya," kata Presiden GNA Fayez al-Sarraj dikutip VoxPop Militer dari Al-Jazeera, Sabtu, 21 Agustus 2020.

Al-Sarraj menambahkan, tujuan dari gencatan senjata adalah untuk memaksakan kedaulatan penuh atas wilayah Libya dan kepergian pasukan asing dan tentara bayaran.

img_title Profil Melissa Vargas, Pevoli Turki Peraih MVP VNL 2026 yang Tampil Sensasional di Final

Tidak hanya itu, Al-Sarraj juga menyerukan agar dilakukan pemilihan parlemen dan pemilihan presiden di Libya pada bulan Maret mendatang untuk menyelesaikan konflik antara pasukan militer GNA dan pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Marsekal Haftar. Al-Sarraj berharap pemilihan presiden itu dapat mengakhiri blokade minyak yang selama ini dilakukan oleh pasukan Haftar.

VoxPop Militer: Tentara Nasional Libya (LNA)

img_title Terungkap Alasan Trump Setop Serangan ke Iran Usai Gempuran Selama 13 Hari Beruntun

Mendengar pernyataan itu, Ketua parlemen Libya pro-Haftar, Aguila Saleh meminta semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata tersebut. Saleh mengatakan, gencatan senjata akan mencegah intervensi militer asing di Libya.

"Gencatan senjata akan menjadikan kota strategis Sirte sebagai tempat duduk sementara bagi dewan kepresidenan baru yang akan dijaga oleh pasukan keamanan dari berbagai daerah di negara itu," kata Saleh.

Hal serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. PBB menyambut baik seruan untuk gencatan senjata tersebut. Mereka berharap keputusan itu dapat dihormati oleh angkatan bersenjata dari kedua belah pihak yang bertikai. 

Hanya saja, Jenderal Marsekal Haftar belum merespon atas usulan Fayez al-Sarraj tersebut. Sejauh ini, pasukan militer Haftar masih menolak kerjasama yang dilakukan oleh pemerintahan GNA dengan Turki terkait dengan eksplorasi minyak dan gas yang dilakukan oleh Turki di Laut Mediterania timur. 

Sebagaimana diketahui, saat ini Turki sudah memulai penelitian Seismic di Mediterania timur. Aktivitas Turki itu tidak hanya mendapatkan penolakan dari pasukan LNA-Libya saja, tapi juga mendapat penolakan dari Yunani Siprus, serta sejumlah negera di Uni Eropa lainnya.

Baca : Palestina Membara, Hamas Luncurkan 7 Roket untuk Balas Serangan Israel

Teluk Persia

Turki Mau Bangun Jalur Baru Kurangi Ketergantungan Terhadap Selat Hormuz, Pakai Kereta Api

Turki targetkan penyelesaian proyek koridor transportasi baru yang menghubungkan Teluk Persia dengan Eropa via Irak dalam waktu 3 tahun sebagai alternatif selat hormuz.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut