Kisah Pemuda Sumedang Jadi Jenderal TNI Sampai Wakil Presiden RI

VoxPop Militer: Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah
Sumber :
  • Youtube

VoxPop – "Jas Merah," bunyi pernyataan Presiden Soekarno yang merupakan akronim dari "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah". Mungkin itu adalah hal yang paling pas diungkap untuk mengenang kembali jasa seorang pria asli Sumedang, yang pernah menjadi orang nomor satu di TNI Angkatan Darat.

img_title Menhan Sjafrie Usul Latihan dan Pembinaan TNI Dilakukan 3 Kali dalam Setahun, Ini Alasannya

Tak hanya menjadi pentolan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), sosok ini juga pernah mempertaruhkan nyawa di berbagai palagan. Ya, dia adalah Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah.

Dalam catatan yang dikutip VoxPop Militer dari buku Balas Budi Soeharto untuk Umar Wirahadikusumah, disebut bahwa Umar lahir di sebuah kota kecil, Situraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Bintangnya Libra, karena ia lahir pada 10 Oktober 1924, atau empat tahun sebelum ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan.

img_title Menhan Sjafrie Ungkap Kekuatan Tempur TNI Terpenuhi, Mulai dari Alutsista hingga Amunisi

Saat usianya masih sekitar 19 tahun, Umar muda sudah ikut berjuang dalam Perang Revolusi Nasional Indonesia. Tepatnya pada 1943, Umar masuk dalam Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Akan tetapi, pendidikan militer lebih dulu didapat Umar saat bergabung dengan Dai Nippon, Seinandojo, di Tangerang.

VoxPop Militer: Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah

Photo :
  • Youtube
img_title TNI Buka Suara Soal Dugaan Prajurit Aniaya Polisi Hingga Tewas di Asrama Brimob Slipi

Perlu diketahui, keputusan Umar untuk masuk ke dunia militer sempat ditentang oleh keluarganya. Wajar saja, Umar adalah keturunan darah biru alias ningrat Jawa Barat. Akan tetapi pada akhirnya, Umar tetap melanjutkan kiprahnya sebagai seorang prajurit.

Pasca Revolusi Nasional Indonesia, Umar bergabung dengan TNI Angkatan Darat di Divisi I/Siliwangi, yang saat ini bernama Komando Daerah Militer (Kodam) III/Siliwangi. Di sana, Umar sempat menjadi ajudan Kolonel Inf Abdul Haris Nasution, yang kala itu menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi.

Karier Umar melesat, setelah ikut serta dalam operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, dan gerakan separatis Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera.

Umar pecah bintang pada 1959. Tepatnya pada 24 Oktober 1959, Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKB-DR) yang dibentuk oleh Angkatan Perang Belanda, berubah nama menjadi Kodam V/Jayakarta. Ya, Umar pun dipercaya memimpin sebagai panglima di komando teritorial ibukota.

Pada saat menduduki posisi Pangdam V/Jayakarta, Umar menghadapi peristiwa Gerakan 30 September 1965, atau yang dikenal dengan G30S/PKI. Alangkah terkejutnya Umar saat mendengar kabar bahwa ada penculikan enam orang Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 dini hari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut