BYD PHK 100.000 Karyawan Padahal Lagi Jaya-jayanya

Interior BYD Seagull Free Edition
Sumber :
  • Carnewschina

China, VoxPop - Industri kendaraan listrik global mulai memasuki fase baru. Jika sebelumnya persaingan bertumpu pada produk dan harga, kini efisiensi operasional serta ekspansi global menjadi fokus utama para produsen.

img_title Produksi Lokal Mobil Elektrifikasi Kian Diperkuat, Menperin Beri Apresiasi

Pergeseran ini tercermin dari langkah strategis BYD yang memangkas sekitar 100.000 tenaga kerja atau setara 10 persen dari total karyawannya sepanjang 2025.

Dilansir VoxPop Otomotif dari Carnewschina, Rabu 1 April 2026, langkah tersebut disebut sebagai bagian dari restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi dan pengendalian biaya, bukan karena penurunan permintaan. Di tengah dinamika industri, performa bisnis BYD justru menunjukkan pertumbuhan yang tetap kuat, sekaligus mencerminkan perubahan strategi di tengah kompetisi yang semakin ketat.

img_title Tak Banyak yang Sadar, BYD M6 EV Kini Diproduksi di Indonesia

Sepanjang 2025, BYD mencatat pendapatan mencapai 8.039,6 miliar yuan atau setara sekitar Rp17.500 triliun. Angka ini diiringi dengan total penjualan kendaraan global yang mencapai 4,6 juta unit. Dari jumlah tersebut, kontribusi pasar luar negeri terus meningkat, dengan ekspor menyentuh sekitar 1,05 juta unit—untuk pertama kalinya melampaui angka satu juta unit dalam setahun.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa pasar global menjadi tumpuan pertumbuhan baru bagi produsen kendaraan listrik asal China. Di tengah persaingan harga yang semakin intens di pasar domestik, ekspansi ke berbagai kawasan seperti Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Latin menjadi strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan.

img_title Kemenperin Ungkap Penyebab Ancaman PHK 1.500 Pekerja Garmen di Jateng, Bukan karena Serbuan Impor

Di sisi lain, tekanan tetap terasa pada profitabilitas. BYD membukukan laba bersih sebesar 326,2 miliar yuan atau sekitar Rp711 triliun, turun sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh tekanan harga di pasar kendaraan energi baru (NEV) di China serta investasi berkelanjutan dalam pengembangan teknologi.

Investasi tersebut tercermin dari belanja riset dan pengembangan (R&D) yang mencapai 634 miliar yuan atau setara sekitar Rp1.380 triliun. Dana ini difokuskan pada pengembangan teknologi elektrifikasi, sistem baterai, serta infrastruktur pengisian daya, yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing jangka panjang.

Dalam pengembangan teknologi, BYD memperkenalkan Blade Battery 2.0 yang dipadukan dengan Flash Charging 2.0. Teknologi ini memungkinkan pengisian daya baterai dari 10 persen ke 70 persen dalam waktu sekitar lima menit, serta hingga 97 persen dalam sembilan menit pada kondisi standar. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan konsumen terhadap efisiensi waktu pengisian daya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut