Mobil Listrik Sudah Murah Tapi Konsumen Masih Ragu, Ternyata Ini Biang Keroknya
- VoxPop/Krisna Wicaksono
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa tidak ada satu teknologi yang benar-benar unggul untuk seluruh konsumen. Pilihan kendaraan sangat bergantung pada lokasi tempat tinggal, kemampuan finansial, hingga kebutuhan mobilitas masing-masing pengguna.
"Kalau satu teknologi benar-benar unggul secara mutlak, kita akan melihat satu tumbuh dan yang lainnya turun. Yang terjadi justru semuanya tumbuh sekaligus. Ini bukan tanda kebingungan konsumen, tetapi mereka sedang memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing," tuturnya.
Josua juga menyoroti tantangan lain yang dinilai lebih mendesak dibandingkan harga kendaraan, yakni pembangunan infrastruktur pengisian daya. Berdasarkan data yang dipaparkannya, hingga 30 Juni 2026 realisasi pembangunan SPKLU baru mencapai sekitar 5.016 unit atau sekitar 52 persen dari target pemerintah tahun ini.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian apabila pemerintah ingin mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
"Risiko terbesar keberlanjutan pertumbuhan BEV bukan harga kendaraan dan bukan insentifnya, tetapi justru infrastruktur yang tertinggal dari rencana. Seberapa besar pemerintah ingin mendorong percepatan kendaraan listrik akan sangat bergantung pada kecepatan pembangunan SPKLU," ujar Josua.
