Truk Sudah Siap Pakai B50, Kualitas BBM di Lapangan Jadi Tantangan
- VoxPop/Krisna Wicaksono
Tangerang Selatan, VoxPop - Penerapan biodiesel B50 pada kendaraan niaga bukan lagi sekadar persoalan apakah mesin mampu menggunakan bahan bakar dengan campuran biodiesel lebih tinggi. Setelah melalui serangkaian pengujian, kualitas B50 yang beredar di lapangan justru menjadi perhatian penting bagi produsen kendaraan.
Hal tersebut disoroti PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) distributor resmi kendaraan niaga dari Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation mengenai roadmap implementasi B50 di Indonesia
Fuso menilai kesiapan kendaraan perlu diikuti dengan jaminan bahwa bahan bakar yang digunakan memiliki kualitas dan spesifikasi yang konsisten. Hal ini penting karena kendaraan niaga memiliki mobilitas tinggi dan beroperasi di berbagai wilayah.
Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Aji Jaya mengatakan pihaknya berharap pemerintah memperketat pengawasan terhadap kualitas B50 yang didistribusikan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Kami berharap Kementerian ESDM terus memperketat pengawasan spesifikasi B50 di seluruh SPBU di wilayah Indonesia. Khususnya di jalur lintas provinsi seperti di Sumatera,” ujar Aji di ICE BSD, Tangerang Selatan.
Menurut Aji, perhatian terhadap kualitas bahan bakar bukan berarti kendaraan belum siap menggunakan B50. Fuso sendiri telah mengikuti proses pengujian sejak tahap awal pengembangan bahan bakar tersebut.
Salah satu kendaraan yang dilibatkan adalah Mitsubishi Fuso Canter. Kendaraan tersebut menjalani uji jalan B50 sejauh 40.000 kilometer untuk melihat pengaruh penggunaan bahan bakar terhadap kendaraan.
Hasilnya, pengujian disebut berjalan lancar tanpa ditemukan dampak negatif yang signifikan terhadap kendaraan.
Pengujian tersebut tidak berhenti pada pengamatan selama kendaraan digunakan. Setelah menempuh jarak 40.000 kilometer, sejumlah komponen kendaraan seperti mesin, saluran bahan bakar atau fuel line, hingga fuel filter dibuka dan dianalisis bersama tenaga ahli teknis dari pabrikan.
Koordinator Pokja Pengujian Hilir Migas Kementerian ESDM Cahyo Setyo Wibowo mengatakan proses pengujian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang penerapan biodiesel di Indonesia.
Menurut dia, pengembangan biodiesel telah berlangsung sejak penerapan B25 pada 2008. Untuk menuju B50, pemerintah melakukan serangkaian pengujian, termasuk uji jalan pada kendaraan dengan bobot lebih dari 3,5 ton.
“Formulasi B50 ini tidak diputuskan seketika, melainkan melalui perjalanan panjang sejak B25 pada 2008 hingga uji jalan sejauh 40.000 kilometer untuk kendaraan di atas 3,5 ton,” tuturnya.
Ia menambahkan, peningkatan kadar biodiesel juga dibarengi dengan peningkatan kualitas B100 atau FAME serta pengawasan terhadap bahan bakar yang beredar.
Bagi kendaraan niaga, kualitas bahan bakar menjadi faktor penting karena gangguan pada sistem bahan bakar dapat berdampak langsung terhadap produktivitas armada. Terlebih, truk yang melayani distribusi antarkota dan antarprovinsi tidak selalu mengisi bahan bakar di lokasi yang sama.
Pengalaman pengguna armada juga menjadi gambaran mengenai penggunaan B50 di lapangan. Direktur Utama PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk Ronny Senjaya mengatakan perusahaannya saat ini mengoperasikan lebih dari 2.000 unit kendaraan untuk rute Jabodetabek, Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.
Sebagian besar armada tersebut telah menggunakan B50. Menurut Ronny, sejauh ini tidak terdapat kendala signifikan terhadap mesin.
Ia mengatakan perawatan preventif dan edukasi mekanik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kendaraan tetap beroperasi.
Dengan demikian, kesiapan menuju B50 tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan. Pengujian mesin, kesiapan perawatan, serta konsistensi kualitas bahan bakar di seluruh jaringan distribusi menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Bagi produsen seperti Fuso, kendaraan sudah diuji untuk menghadapi B50. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahan bakar dengan spesifikasi yang sesuai benar-benar tersedia ketika truk beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.
