RIP Bioskop 'Esek-esek' Grand Senen
- VoxPop/Zahrotustianah
Lantai dua luar gedung hanya menyisakan kotak-kotak bekas tempat poster. Di antara seng-seng yang menutupi kotak kosong itu, hanya gelap yang terlihat. Tulisan Mulia AGUNG Theater juga makin tak terbaca, warnanya pudar dimakan usia.
Di sisi lain, kondisi luaran Bioskop Grand tak jauh berbeda. Jendelanya sudah tak berbentuk, keropos siap dihancurkan. Temboknya makin tua, berselimut lumut yang membuat sudut dan sisinya menghitam. Bagi generasi masa kini, papan nama dan waktu operasional yang masih menempel adalah petunjuk terakhir yang tersisa bahwa gedung ini pernah menjadi bioskop.
Bioskop Grand Senen merupakan salah satu yang dibangun di masa awal keberadaan bioskop di Indonesia. Berdasarkan data yang tertera di Wikipedia, mengutip dari tulisan Scott Merrillees, penulis dan sejarawan kelahiran Australia, berjudul Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980 yang diterbitkan Equinox Publishing pada tahun 2015, Grand Theater di Senen berdiri pada tahun 1930, dua tahun lebih dulu dari Metropole di Menteng yang dikenal sebagai bioskop tertua di Jakarta.
Di era yang kian modern, teater di Senen ini memang dikenal bertahan dengan menjadi bioskop kelas bawah yang kerap memutar film-film erotik atau horor berbujet rendah. Hingga penghujung tahun 2016, bioskop ini masih aktif membuka praktik bisnis 'menonton' ala mereka.
Namun perlahan, bioskop ini makin terlihat sepi dan tak berpenghuni. Asih mengatakan, sekitar Lebaran 2017 lalu, bioskop Grand Senen benar-benar tutup usia. "Bangkrut," begitu katanya.
![]()
Dari trotoar di pinggir Jalan Kramat itu, memang tak nampak ada aktivitas apa pun di dalam. Semuanya keropos, lapuk, dan siap dibongkar. Hanya terlihat bekas loket penjualan tiket dan eskalator yang sudah tertutup barang-barang tak jelas. Namun, ada sapu ijuk di sana, lantainya bisa dibilang cukup bersih untuk gedung sebobrok ini. Mungkin masih sering jadi 'kamar' tuna wisma atau sekadar tempat ngumpul orang-orang sekitar.
![]()
"Ini jadi gudang ATM rongsok," Asih menunjuk deretan bangkai mesin penarik uang tersebut. Sebagian ada yang diselimuti plastik, namun sebagian lainnya ditaruh begitu saja. Tak terurus.
