RIP Bioskop 'Esek-esek' Grand Senen

Bioskop Mulia Agung dan Grand Senen Kini
Sumber :
  • VoxPop/Zahrotustianah

Saya kemudian berjalan mencari pintu gerbang. Tampak di dalamnya mobil-mobil terparkir dan tak semuanya barang lama. Dari nomor polisinya, terlihat mobil-mobil itu masih dipakai. Menurut Asih dan beberapa orang yang nongkrong di sana, tempat ini memang sudah beralih fungsi jadi lahan parkir untuk orang sekitar, entah siapa saja.

img_title Puncak Hari Film Nasional, Motor Dilan Hingga Kostum Pemain Mejeng di Sarinah

Bioskop Mulia Agung dan Grand Senen Kini

"Dilarang masuk selain karyawan Advantage. Film ditutup tidak aktif kembali," sebuah pemberitahuan menempel di muka gerbang. Konon, sudah lama, sekitar setahun belakangan.

img_title Kemendikbudristek Ngabuburit Bareng Insan Film di 10 Kampus, Rayakan Kreativitas Film Indonesia

Seorang pria berkaus kuning tampak membuka gerbang itu dan hendak memasukinya. Dia enggan berbicara banyak, apalagi menyebut identitasnya. Pria itu hanya mengatakan bahwa tak ada aktivitas apa pun di dalam sana.

"Ya begini aja, jadi tempat parkir. Udah enggak ada apa-apa," katanya tanpa mengizinkan VoxPop melangkahkan kaki lebih dekat, lalu bergegas masuk ke dalam.

img_title Dibintangi Dimas Anggara, Film Lafran Diputar Buat Rayakan Hari Film Nasional 2024

Bioskop Mulia Agung dan Grand Senen Kini

Tak Bisa Dipertahankan

Berbeda dengan Metropole di Menteng, pemerintah tak punya rencana peremajaan gedung tua Grand Senen. Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Tinia Budiati, mengatakan, tak melihat ada kualifikasi khusus yang membuat pemerintah harus melestarikannya.

"Metropole di Menteng masuk kawasan cagar budaya, karena banyak perumahan dengan gaya-gaya tertentu di situ. Gedungnya (Metropole) juga masih bagus, lingkungannya memungkinkan, karena kawasan cagar budaya, tapi kalau Senen kan sudah berubah total dan memang dia tidak masuk bangunan cagar budaya," katanya melalui saat berbincang dengan VoxPop melalui sambungan suara, Selasa malam, 20 Maret 2018.

Menurutnya, ikon di kawasan Senen yang dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya hanya stasiunnya saja. Selebihnya, kawasan itu memang lebih dikenal sebagai kawasan pertokoan China sejak dahulu. 

"Kalau (sebagai) cagar budaya, kalau bioskop itu memang punya bentuk, gaya sendiri, kita bisa pertahankan seperti Metropole. Dia punya gaya international style untuk artsitekturnya, itu bisa kita pertahankan sebagai ikon," katanya.

Metropole XXI

Ya, dikutip dari Fimela.com, Metropole yang didirikan oleh Liauw Goan Sing itu memiliki desain Art Deco yang merupakan perkembangan dari desain arsitektur dunia, Art Nouveau. Sementara pada bioskop di Senen, Tinia mengaku tak masuk hitungan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut