Quo Vadis TNI AU?

Formasi jet tempur TNI AU.
Sumber :
  • ANTARA/Widodo S. Jusuf

Yuyu juga menyinggung situasi di tanah air yang sekarang ini memasuki tahun politik. Dia menekankan kepada seluruh anggota TNI AU agar tidak terlibat dalam politik praktis serta menjaga netralitas TNI dalam proses pilkada dan pemilu.

img_title HUT Ke-76 RI, TNI AU Luncurkan Film Serigala Langit

Kata dia, implementasi sikap netralitas ini, diwujudkan dengan tidak memihak salah satu calon atau partai politik peserta pemilu, baik langsung atau tidak langsung maupun penggunaan sarana kedinasan untuk kegiatan pilkada atau pemilu.

Baca juga: KSAU Minta Prajurit Tak Ikut Campur Pilkada dan Pilpres

img_title Area Latihan Pengeboman Jet Tempur AU Bakal Jadi Obyek Wisata

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) TNI, Jemi Trisonjaya, mengakui insitusinya saat ini membutuhkan tambahan alutsista. Karena itu, dia bersyukur tahun depan mereka akan memiliki pesawat pengganti F5.

Jemi menuturkan TNI Angkatan Udara sekarang juga sudah menambah beberapa alutsista seperti 24 pesawat yang baru datang, kemudian mengupgrade pesawat F16 di Pekan Baru, lalu rencana pengadaan persenjataan T50 pengganti pesawat Hawk, juga pengadaan Radar GCI, radar pesawat.

img_title Benda Diduga Komponen Pesawat Jatuh di Ngawi, TNI AU Turun Tangan

Meski demikian, tak hanya alutsista, Jemi menyatakan TNI AU masih membutuhkan tambahan prajurit untuk mengisi penguatan organisasi. Apalagi, mereka berencana membentuk Koops AU III. Sedangkan untuk capaian lembaganya, dia menyampaikan sudah cukup banyak.

Mengenai posisi Panglima TNI yang dijabat mantan KSAU atau dari Angkatan Udara, Jemi tidak terlalu mempersoalkannya. TNI AU dalam posisi mendukung semua kebijakan panglima TNI, siapapun itu, apakah dari AU, Angkatan Darat, atau Angkatan Laut.

"Kami dukung semua. Karena itu kan bagian dari loyalitas kami, profesionalitas kami di situ. Itulah jiwa ksatria yang tadi disampaikan KSAU, yang namanya TNI itu tegak lurus," ujarnya.

Ilustrasi prajurit TNI AU

(Prajurit TNI AU).

Wakil Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafid, mengatakan kebutuhan utama TNI AU adalah memiliki pesawat-pesawat yang mempunyai daya kekuatan atau kecanggihan tingkat tinggi. Menurutnya, itulah yang membuat mereka dipandang oleh AU dari negara-negara lain.

"Itu peer-nya," kata dia kepada VoxPop.

Namun demikian, politisi Partai Golkar itu menuturkan kebutuhan pesawat sering kali tertunda karena jenis alutsista ini salah satu yang paling mahal. Sedangkan secara institusi dan personelnya, dia menilai TNI AU sudah cukup profesional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut