Quo Vadis TNI AU?

Formasi jet tempur TNI AU.
Sumber :
  • ANTARA/Widodo S. Jusuf

"Jadi memang tinggal didukung alutsista yang memadai. Pesawat terbaru dengan daya tempur yang baik," kata dia.

img_title Kodam: Rachel Vennya Dibantu Paskhas TNI AU saat Kabur Karantina

Berbeda dengan Jemi, Meutya menilai posisi Panglima TNI yang dijabat Marsekal Hadi Tjahjanto memiliki nilai lebih bagi mereka. Dia melihat Hadi sangat paham tentang AU dan seluruh permasalahan yang harus dibenahi.

"Jadi ini momentum yang tepat untuk mengangkat AU yang biasanya jadi anak nomor dua atau tiga menjadi sejajar dengan angkatan-angkatan lainnya," ujar Meutya.

img_title Gawat, Jenderal Bintang 2 TNI Dipukuli Warga

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

(Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto).

img_title Saat Jokowi Sapa dan Foto Bersama dengan Penerbang Pesawat Tempur

Sedangkan, Pengamat Intelijen dan Militer, Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati, berharap di usinya yang ke-72 tahun, TNI AU sudah bisa mengembangkan konsep sistem pertahanan udara yang modern serta canggih. Konsep yang diperlukan adalah sistem deteksi dini dan interceptor.

Nuning mengatakan, konsep ini diperlukan, karena mengingat dinamika konflik Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Dua negara itu sudah menjadi pelaku utama dalam konflik ini, dengan mengembangkan rudal nuklir jarak jauh.

Untuk menunjang konsep tersebut, TNI AU harus bisa memodifikasi Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum dalam proses modernisasi alat utama sistem persenjataan (alusista).

Menurut dia, terobosan yang bisa dilakukan dengan menambah radar Ground Control Interceptor (GCI) dan radar Early Warning (EW).

"Jadi, operational requirement dan technical specification kedua jenis radar tersebut tidak hanya untuk dog fight di udara antara pesawat TNI AU melawan pesawat musuh. Tetapi, juga harus mampu dog fight pesawat TNI AU menangkis rudal nuklir," kata dosen Universitas Pertahanan itu.

Nuning juga menyarankan pentingnya pesawat tempur TNI AU dilengkapi senjata rudal. Senjata ini sebagai anti rudal jarak jangkau minimal 48 kilometer.

Kemudian, dia juga mendorong peningkatan kapasitas prajurit perwira TNI AU. Salah satu caranya dengan mengirim mereka ke pelatihan atau sekolah ke luar negeri untuk menjadi master dan doktor ilmu ruang angkasa.

Akhirnya, bagaimana pun, jika ingin memiliki angkatan perang yang sederajat dengan angkatan perang negara-negara lain maka negeri ini harus membangun Angkatan Udara yang sebaik-baiknya. Begitulah pesan Bung Karno pada peringatan ulang tahun AURI ke-5 pada 9 April 1951 yang juga dikutip oleh KSAU, Marsekal TNI Yuyu Sutisna, pada sambutannya di Halim Perdanakusuma.

Penganiayaan ilustrasi

Prajurit TNI AD Tewas Dikeroyok di Penjaringan Jakut

Seorang prajurit TNI AD berinisial S (23), harus meregang nyawa akibat menjadi dikeroyok  sekelompok orang tak dikenal

img_title
VoxPop.co.id
16 Januari 2022
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut