Merawat Tradisi dengan Wisata Ziarah
- VoxPop/Daurina Lestari
VoxPop – Di bulan Ramadan, destinasi-destinasi wisata religi, seperti makam para raja dan Sunan Wali Songo, ramai dikunjungi para peziarah. Banyak umat Muslim mengunjungi makam sembilan Wali Songo, para penyebar agama Islam di Tanah Jawa, untuk berdoa dan tahlilan.
Para peziarah mengunjungi tempat-tempat sakral yang terkait dengan agama dan kepercayaan tertentu dengan motivasi untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual, dan juga untuk mendapatkan pengalaman budaya dan tradisi religi setempat. Biasanya para peziarah mengunjungi tempat-tempat tersebut karena memiliki kedekatan dari sisi historis atau leluhur.
Namun, kini destinasi wisata ziarah juga menjadi objek wisata sejarah dan budaya, dan memiliki potensi besar bagi industri pariwisata nasional. Makam-makam Wali Songo tidak hanya didatangi oleh para peziarah dari dalam negeri, tetapi juga mancanegara.
Data Kementerian Pariwisata mencatat 12,2 juta kunjungan wisatawan ziarah dari Indonesia dan sekitar 3.000 kunjungan wisatawan mancanegara ke sembilan makam Sunan dalam satu tahun. Diperkirakan perputaran uang di destinasi wisata ziarah Wali Songo tersebut mencapai Rp 3,6 triliun di tahun 2014 saja.
Pada 2014, Makam Sunan Ampel di Surabaya yang paling banyak dikunjungi peziarah yaitu sekitar 1,9 juta kunjungan. Makam Sunan Kalijaga di Demak berada di peringkat kedua dengan jumlah sekitar 1,6 juta kunjungan.
![]()
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan pemeluk agama Islam di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai lebih dari 87 persen menjadi potensi penting dalam konteks pengembangan pariwisata berbasis religi. Ragam daya tarik pariwisata berbasis religi yang terkait dengan Ramadan antara lain, berupa ziarah kubur, kunjungan ke masjid, festival atau kegiatan religi, dan bahkan tradisi budaya yang popular seperti ngabuburit.
"Fenomena ini pada satu sisi merupakan bagian dari peningkatan keimanan, serta di sisi lain bisa menjadi identitas budaya yang unik dan otentik yang ada pada tempat-tempat tertentu. Antusiasme masyarakat setempat juga bisa dimaknai sebagai bagian dari kesadaran untuk melestarikan nilai tradisi budaya dan religi setempat," katanya kepada VoxPop saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Kenaikan kunjungan ziarah justru terjadi saat menjelang Ramadan tepatnya di bulan Syakban atau satu bulan sebelum Ramadan. Banyaknya para penziarah ke makam-makam dan penziarah sebagian besar adalah wisatawan lokal.
