Waspada, Jebakan Perang Diskon Jelang Lebaran

Berburu Diskon Lebaran
Sumber :
  • VoxPopnews/Muhamad Solihin

VoxPop.co.id – Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, hari raya Lebaran selalu menjadi momentum tepat bagi setiap produsen menarik minat para pembeli dengan menggelar pesta diskon besar-besaran.

img_title Tak Ada Takbir Keliling, Kakorlantas Pastikan Situasi Jakarta Aman

Daya beli masyarakat yang biasanya melonjak saat hari raya Lebaran, selalu dimanfaatkan pengusaha maupun pusat perbelanjaan untuk menawarkan produk-produk yang mereka jual dengan harga miring. 

Setiap pengusaha ritel memberikan diskon yang beragam sebagai upaya meningkatkan penjualan. 

img_title 9 Mal Gelar Midnight Sale Malam Ini, Diskon hingga 80%

Perang diskon biasanya terjadi saat memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran. Sebelum itu, pengusaha telah menyiapkan sejak enam bulan lalu. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey mengatakan, diskon yang terjadi saat Lebaran memang telah disiapkan pengusaha sejak enam hingga tujuh bulan sebelumnya melalui pembicaraan dengan supplier.

img_title Sambut Lebaran, 8 Mal Jabodetabek Beri Diskon Besar-besaran

"Jadi memang, diskon ini adalah strategi yang dilakukan antara produsen atau supplier dengan pengusaha ritel untuk bisa memberikan harga  terbaik untuk masyarakat," kata Roy, kepada VoxPop.co.id

Diskon tersebut merupakan suatu dinamika antara peritel satu dengan lainnya untuk menjaring konsumen. Beragamnya diskon yang diberlakukan merupakan bentuk kreativitas dan negosiasi dengan pemasok itu sendiri.

"Tidak ada aturan yang mengatur (diskon) itu, karena ini kan bagaimana kreativitas dan usaha-usaha peritel untuk dapat mendongkrak penjualan, terutama di musim-musim tertentu, seperti Ramadan dan menjelang Lebaran," katanya.
 
Menurutnya, dari tahun ke tahun, penjualan di bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran ini menjadi penyumbang terbesar bagi omzet pengusaha. 

Bahkan, berkontribusinya mencapai 45 persen dari omzet pengusaha ritel setahun.

"Karena memang masyarakat berbelanja itu adalah to consume, apalagi ketika ada THR (tunjangan hari raya). Makanya, dari tahun ke tahun kami jadikan festive bulan Ramadan ini yang utama, karena bisa mengkontribusi 40-45 persen omzet setahun," tuturnya. 

Tak hanya di Indonesia, tren diskon juga terjadi di negara-negara lain saat memasuki musim tertentu dan hari raya besar.

"Sama dengan luar negeri juga. Kalau di luar negeri mungkin lebih dikenal dengan great sale new year, di sana itu terjadi yang namanya cuci gudang, dan itu adalah suatu program yang sudah dirancang enam bulan sebelumnya," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut