Penduduk Miskin Indonesia Berkurang, Benarkah?
- Antara/ Oky Lukmansyah
"Peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan, besarnya sumbangan makanan pada Maret 2016, sebesar 73,5 persen," kata Suryamin di Jakarta Senin 18 Juli 2016.
Diuraikannya bahwa pada Maret 2016, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan dan perdesaan hampir sama. Di mana beras memberi sumbangan sebesar 21,55 persen di perkotaan dan 29,44 persen di perkotaan.
"Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK yakin 9,08 persen di perkotaan dan 7,96 persen di perdesaan," katanya.
Adapun komoditi bahan makanan lainnya yang menjadi penyumbang terbesar adalah telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan dan yang hampir sama untuk perkotaan dan perdesaan. Sementara itu, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan hingga perlengkapan mandi.
"Selain itu komoditi bukan makanan lainnya yang penyumbang terbesar lainnya diantaranya adalah angkutan dan kayu bakar," tuturnya.
Penduduk miskin 'numpuk' di Jawa
Lebih lanjut dia menjabarkan, penyebaran masyarakat miskin berdasarkan presentase terbesar berada di Papua dan Maluku yaitu 22,09 persen atau sebanyak 1,54 juta. Sementara itu presentase penduduk miskin terendah berada di pulau kalimantan yaitu 6,26 persen 970 ribu orang.
Namun, berdasarkan jumlah, pulau yang menampung banyak penduduk miskin adalah Jawa dengan 14,97 juta orang. Lebih dari 50 persen dari total penduduk miskin yang tercatat.
Suryamin mengungkapkan, bahwa penduduk miskin di Jawa disumbang oleh penduduk pedesaan yang jumlahnya mencapai sebanyak 8,07 juta atau 14,04 persen, sedangkan penduduk miskin di perkotaan jumlah sebanyak 6,90 juta atau 7,77 persen.
"Yang miskin paling banyak di Jawa secara jumlah tapi presentasenya memang kecil, karena penduduknya banyak. Artinya 14,97 juta orang, lebih dari separuh penduduk miskin di seluruh Indonesia," kata Suryamin
Suryamin berharap angka ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah agar dapat meningkatkan peluang kerja dan pengentasan kemiskinan.
Ia yakin dengan adanya pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa dalam beberapa tahun ke depan, akan menambah penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya berimbas kepada pengurangan jumlah penduduk miskin.
