Di Balik Bentrok Rawajati
- ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Menurut Devi, kenyamanan yang dimaksudkan, seperti kenyamanan sosiologi dan ekonomi, yang belum tentu didapatkan di tempat yang baru dalam waktu dekat.
Karena itulah, dalam setiap penggusuran, ada saja warga yang merasa harus melakukan perlawanan agar apa yang mereka nikmati selama ini, tetap terjaga tanpa harus pindah ke lokasi yang baru.
"Memang ini tidak mewakili semua warga secara keseluruhan. Tapi, bagi mereka yang biasa hidup di lahan itu, pasti akan merasa tak biasa jika harus hidup di rusun," ujarnya.
Devi menuturkan, keributan akan rentan terjadi di saat-saat penggusuran akan dilaksanakan. Apalagi, selama ini, seperti sebuah kebiasaan, ada saja isu yang beredar di warga yang akan digusur, tentang hal-hal buruk di tempat yang baru.
"Isu itu akan beredar meskipun kenyataannya tempat yang baru lebih baik dari tempat sebelumnya," kata Devi.
Selain itu, menurut Devi, sebenarnya kekerasan dan penggusuran bisa dihindari, asalkan tahu akar masalahnya, seperti yang terjadi saat penggusuran kawasan Kalijodo di Jakarta Utara. Namun, untuk menciptakan suasana aman saat penggusuran, pemerintah harus lebih mengintensifkan komunikasi dalam melakukan sosialisasi jelang penggusuran.
Dan, Devi mengatakan, komunikasi itu harus dilakukan dengan jangka waktu yang panjang dari hari pelaksanaan penggusuran, serta melibatkan seluruh perwakilan masyarakat di wilayah itu.
"Masyarakat kita adalah masyarakat yang bermusyawarah, komunikasi langsung akan lebih efektif, pemerintah harus melakukan pendekatan verbal dengan cara diskusi langsung, dan itu harus diintensifkan," katanya.
