Cerita Derita Ida Bertahan Hidup di Puing Rumah yang Digusur

Ida dan warga Rawajati di tenda daruratnya, Selasa 6 September 2016.
Sumber :
  • Irwandi Arsyad - VoxPop.co.id

VoxPop.co.id – Berbagai cerita masih tersisa di lokasi penggusuran pemukiman liar di Jalan Rawajati Barat, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Karena, hingga saat ini, masih ada warga yang memilih bertahan hidup di antara puing-puing pemukiman mereka yang kini sudah rata.

img_title Ratna Sarumpaet ‘Curhat’ dengan Wakil Ketua DPR

Salah satu warga yang memilih bertahan, Ida (45 tahun) mengatakan, dia dan suami, serta tiga anaknya memilih bertahan di tanah kelahirannya itu. Meskipun harus tinggal di sebuah tenda darurat seadanya, dengan beratapkan terpal berwarna biru, dan beralaskan tikar usang.

Ida menceritakan, dia sudah 45 tahun tinggal di tempat itu. Namun, tak pernah diusir sama sekali oleh pemerintah. Atas alasan itu, dia lebih memilih bertahan sejak Kamis pekan lalu.

img_title Warga Rawajati Enggan Direlokasi, Wagub Djarot Santai

"Dari lahir di sini sudah 45 tahun. Dulu enggak pernah di usir. Dari hari Kamis di sini, pilih bertahan di sini," kata Ida di lokasi, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa 6 September 2016.

Ida sebenarnya bisa saja mendapatkan tempat yang layak untuk hidup, karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah menyediakan tempat tinggal di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Marunda di Jakarta Utara. Tetapi, dia menolak pindah ke tempat itu.

img_title Ahok Minta Anak-anak Gusuran Rawajati Meniru Putranya

Alasannya, kata Ida, lokasi Rusunawa Marunda terlalu jauh dari sekolah ketiga anaknya. "Anak sekolah di sini, bapaknya tidur di sini. Kemarin, baru kita dapat tempat saudara dikasih, anak-anak tidur dit empat saudara itu," ujarnya.

Selain itu, Ida mengatakan, dia tidak akan mau pindah ke Rusunawa Marunda, karena lokasi rusun sangat terpencil dan akses menuju ke sana pun sulit. Bahkan, kata Ida, ada cerita lima warga Rawajati yang sudah pindah ke Rusunawa Marunda, tetapi akhirnya memilih keluar dari rusun itu.

"Enggak pindah ke Marunda. Enggak mau ke sana, jauh ke mana-mana. Airnya enggak bagus, tahu dari orang sini yang datang ke sana, lima orang sempat pindah ke sana, airnya enggak bagus dan ada juga yang bocor. Yang lima orang ke sana, sudah balik lagi. Balik ke sini, akhirnya dia ngontrak dan ada juga yang tinggal di tempat saudara," ujar Ida.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut