Harga Cabai Rawit Merah Meroket, Kenapa Bisa?
- ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Meski demikian Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional, Abdullah Said, mengkritik keberadaan Toko Tani Indonesia. Dia menilai TTI tidak efektif dalam mengendalikan harga pangan.
“Beberapa komoditas pangan tidak bisa distabilkan lewat TTI, karena pertama, tidak banyak masyarakat yang mengetahui TTI dan jaraknya jauh dari pemukiman warga, tidak strategis,” ujarnya.
Dia menegaskan pemerintah harus segera mencari solusi untuk mengatasi keterbatasan pasokan cabai rawit ini. Solusi utamanya adalah peningkatan produksi cabai rawit.
“Ini menjadi tugas Kementerian Pertanian untuk fokus pada produksi,” ujarnya.
Diutarakan Abdullah, saat ini suplai cabai terbatas, meski tidak terjadi kelangkaan. Dia mencontohkan saat ini pasokan cabai rawit di sejumlah daerah mengalami penurunan seperti di Jakarta. Meski demikian stok di Blitar, Lumajang, di Jawa Timur, cukup tinggi.
“Pasokannya katakanlah 300 ton, turun menjadi 150-50 ton. Jadi ada setengah lebih penurunannya,” katanya.
Dia menyesalkan sikap pemerintah yang tidak bisa mengatasi kesenjangan distribusi pangan di daerah-daerah hingga menyebabkan harga cabai melonjak. Para pedagang pun terpaksa mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan mengambil cabai langsung dari petani seperti di Nusa Tenggara Barat, Aceh, dan Bali.
“Harga tak terkendali ini tidak bisa diatur pemerintah, sehingga kami mengambil langkah itu. Hampir semua komoditas, khususnya cabai,” ujarnya. (one)
