Mewaspadai Konten Dewasa di Film Superhero dan Anak-anak
- Disney
Ia menghabiskan hari-harinya bekerja sebagai chauffeur atau supir pribadi limosin sewaan di Texas, Amerika Serikat. Ia membutuhkan uang untuk terus menerus menebus obat bagi Profesor Charles Xavier (Patrick Steward), yang menderita penyakit neurodegeneratif, menyebabkan dirinya kehilangan kontrol akan kemampuan telepatiknya.
Bersama seorang mutan albino bernama Caliban (Stephen Merchant), Logan merawat Profesor X di sebuah bangunan bekas pabrik peleburan logam di dekat perbatasan Meksiko.
Hidup Logan berubah ketika suatu hari ia bertemu dengan seorang mantan perawat, Gabriela (Elizabeth Rodriguez) dan anak perempuan Meksiko bernama Laura (Dafne Keen). Gabriela, memohon padanya untuk membawa mereka ke sebuah tempat di Dakota Utara bernama Eden. Logan langsung menolaknya, lantaran Gabriela mengetahui identitas aslinya.
Film ini mendapat pujian. Banyak kritikus yang kagum dengan naskahnya yang berani dan penuh kekerasan, serta seimbang antara sekuel action intens yang diharapkan dari sebuah film pahlawan super dengan bumbu drama.
Logan yang terbaru memang jauh lebih gelap, kelam dan kental akan elemen-eleman berbahaya yang menegangkan dibanding film-film X-Men sebelumnya. Meski begitu, film ini sukses menampilkan sisi brutal dan fearless dari seorang karakter ikonik.
Kritikus film, Julian Roman mengungkapkan film ini memang dibuat lebih gelap dari sebelumnya. "Logan adalah film yang gelap dan menegangkan. Sutradara James membawa nuansa realisme dalam genre komik," ujarnya seperti dilansir dari MovieWeb.
Chris Nashawaty dari Entertainment Weekly menganggap film ini memiliki kontradiksi yang aneh dan unik. "Ini film yang paling brutal sekaligus paling sentimentil dalam seri Wolverine," katanya menilai film tersebut.
Jika yang lain memuji, kritikus film Stephanie Zacharek justru berbeda. Ia tak menganggap film ini terlalu istimewa. Ia menilai film ini mengangkat sisi manusiawi yang kelam. Tetapi, ini bukan lagi sesuatu yang baru. "Tapi bukan berarti ini film yang bagus," ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti film ini tanpa kritikan. Film yang menghabiskan biaya produksi sebesar US$97 juta atau setara dengan Rp1,3 triliun tersebut dianggap terlalu mengeskpos kekerasan dan darah.
