Kosmetik: Jadi Cantik atau Sakit?

Ilustrasi kosmetik/make-up.
Sumber :
  • Pixabay/Schweiz

Penggunaan hidroquinon dalam jangka panjang, bisa menyebabkan hiperpigmentasi, khususnya bagian wajah yang sering terkena matahari. Selain itu, okronosis, di mana mukanya tampak keabu-abuan. Efek ini, biasanya terlihat enam bulan setelah pemakaian. Dan, jika digunakan dalam jangka menengah, akan menyebabkan vitiligo, atau bercak-bercak putih di kulit.

img_title Bahaya Penggunaan Produk Kosmetik Berbahan Merkuri

Asam retinoid yang bisanya menyebabkan pengelupasan, menurut Niken, juga berbahaya. Efek samping dari penggunaan produk kosmetik dengan kandungan bahan ini adalah kulit kering, terbakar, sensitif, dan lebih mudah gatal.

Ada juga resorsinol yang berbahaya, karena bisa menyebabkan dermatitis, kulit kering, dan iritasi, serta mengganggu saluran pernapasan. Bahan kimia merah K3, yang telah dilarang penggunaanya di Indonesia, tetapi masih banyak ditemukan dalam produk kosmetik, terutama lipstik juga perlu diwaspadai, karena pemakaian dalam konsentrasi tinggi dapat memicu kanker dan merusak hati.

img_title Lipstik dan Eyebrow Ini Terinspirasi dari Cerita Rakyat

"Warnanya bahan ini sangat menarik. Ini, sebenarnya untuk pewarnaan kertas dan tekstil," ujar dia.

Bahan kimia timbal dalam kosmetik juga dapat merusak kulit. Selain itu, membuat tekanan darah menjadi lebih tinggi, dan menurunkan fungsi ginjal.

img_title Tetap Cantik Selama di Rumah, Ini 5 Trik Aman Memilih Kosmetik

Selain kosmetik, produk perawatan pribadi juga mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya atau beracun. "Banyak dari bahan kimia sintetis yang dapat mengiritasi kulit, mengganggu hormon dan bersifat karsinogenik," kata ahli nutrisi dan gaya hidup di New York, Vannesa Cunningham, seperti dilansir dari Huffington Post.  

Menurutnya, ada 10 bahan kimia dalam produk kosmetik dan perawatan pribadi yang sebaiknya dihindari untuk digunakan secara berlebihan, atau melebihi konsetrat, karena bisa membahayakan. Pertama adalah paraben, yang biasa digunakan sebagai pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur dan ragi dalam produk kosmetik.

Bahan kimia yang terkandung dalam paraben dianggap dapat menghambat hormon potensial dan secara khusus meniru hormon estrogen sehingga ada dapat berkontribusi pada perkembangan tumor dan kanker payudara, serta masalah ketidaksuburan. Selain itu, warna sintetis juga sebaiknya dihindari, lantaran dapat memicu kanker dan iristasi kulit. Pengharum pun dapat menimbulkan alergi, dermatitis, gangguan pernapasan, dan efek potensial pada sistem reproduksi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut