Jejak Baru Asal Usul Manusia
- www.telegraph.co.uk/University of Toronto
Peneliti lain dalam tim tersebut juga terkesiap. Sebab dengan kesimpulan itu, maka teori utama nenek moyang manusia bisa usang.
"Spesies kita kita berevolusi di Afrika, tapi garis keturunan mungkin tidak dari sana," jelas ahli paleoantropologi Universitas Tübingen, Jerman, Madelaine Böhme.
Selain dua peneliti itu, ahli paleoantropologi Universitas Toronto, Amerika Serikat, David Begun juga termasuk dalam tim tersebut.
Graecopithecus tergolong spesies yang misterius, sebab fosilnya sangat jarang. Ukuran nenek moyang manusia ini diperkirakan seukuran simpanse betina dan tinggal di lingkungan padang rumput kering, mirip savana Afrika pada masa kini. Maka tak heran teori Out of Africa bertahan lama sampai saat ini.
Skeptis dan kontroversi
Namun keyakinan tim peneliti yang berkesimpulan asal usul manusia dari Eropa menuai kontroversi. Ilmuwan lain menyambutnya dengan skeptis, bahkan keraguan hasil studi itu meluas di berbagai kalangan ilmuwan yang terlibat dalam penelitian lapangan.
Secara umum, ilmuwan yang mengkritik temuan itu menyangsikan kualitas riset. Penelitian tim tersebut dinilai tidak kuat untuk melemahkan konsensus Ouf Of Africa yang telah meluas diyakini ilmuwan, bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afrika dan mulai keluar dari benua ini ke arah Utara.
"Gagasan nenek moyang manusia yang pertama kali muncul dari Eropa sedikit dukungan," kata pakar paleoantropologi Richard Potts dalam keterangan melalui emailnya, dikutip CBSnews.
Potts merupakan ilmuwan program asal usul manusia Smithsonian Institution. Dia tak terlibat dalam penelitian tim yang mengklaim asal usul manusia berasal dari Eropa.
Potts menjelaskan, sedikit peneliti yang mendukung klaim asal manusia muncul yakni dari daerah cukup terpencil di Eropa Selatan.
Dalam kritiknya, Potts menuding klaim peneliti bahwa pengurangan akar gigi taring pada fosil Graecopithecus freybergi, menjadi bukti jelas fosil itu sebagai nenek moyang awal, adalah tak kuat.
Tim peneliti itu, kata Potts, tak punya cukup bukti kontekstual untuk menarik kesimpulan nyata dari akar gigi taring tunggal. Menurutnya, perlu sampel lainnya, untuk memperkuat klaim mereka, misalnya mahkota gigi taring.
