Film G30S/PKI dan Munculnya Lagi Sentimen Anti-Komunis

Sampul film G30s/PKI yang pernah menjadi tontonan wajib di Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru.
Sumber :
  • cinema-xcinema.blogspot.com

Sejarah Kelam

img_title Istana Sebut Kebijakan Bolehkan Keturunan PKI Jadi TNI untuk Keadilan

Ilustrasi/Korban tragedi 1965

FOTO: Salah seorang saksi sekaligus korban tragedi 1965 dalam sebuah aksi

img_title Fadli Zon: Harus Tetap Waspada dengan Gerakan Komunisme

Film Pengkhianatan G 30 S-PKI, harus diakui memang memunculkan ragam persepsi. Namun yang pasti, selama 14 tahun film ini menjadi tontonan wajib hingga 1998.

Bisa ditanyakan kepada siapa pun, khususnya mereka yang terlahir di bawah tahun 1990-an, pasti menyimpulkan begitu kejamnya PKI pada masa itu.

img_title Gatot Tuding TNI Disusupi Komunisme, Pakar Khawatir Ada yang Percaya

Aksi mereka menculik, menyiksa dan membunuh para jenderal, menjadi cerita menyeramkan yang membekas. Bagaimana tidak, oleh rezim orde baru film ini menjadi satu-satunya alat 'propaganda' tentang buruknya kisah pada 1965.

Entah itu di televisi, layar tancap sampai ke buku pelajaran, doktrin aksi brutal PKI yang hendak menggulingkan negara, menjadi sebuah hal yang lumrah, dan 'fasih' bagi siapa pun.

Namun demikian, setelah era itu runtuh. Publik pun kemudian dihadapkan dengan informasi baru. Sebuah penelitian malah menunjukkan fakta sebaliknya dari skenario di film G 30 S-PKI.

Riset itu dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan secara resmi pada tahun 2012 dipaparkan bahwa ada praktik pembantaian atau genosida terhadap mereka yang dianggap terlibat komunis.

Angkanya mengerikan, riset Komnas HAM ada 500 ribu sampai tiga juta orang dikabarkan mati, hilang, diperkosa, dianiaya, dan dirampas kemerdekaannya.

"Ada pelanggaran HAM berat berupa kejahatan terhadap kemanusiaan yang bersifat sistematis dan meluas yang dilakukan negara (aparat negara) atau dibiarkan terjadi oleh negara," kata koordinator penyelenggaraan International People's Tribunal (IPT) 1965, Nursyahbani Katjasungkana kepada VoxPop.co.id.

Ya, tumbangnya orde baru oleh era reformasi akhirnya menguak sisi lain sejarah yang telah diciptakan. Ternyata banyak hal yang berbeda, mengejutkan dan bahkan membuat siapa pun mengernyitkan dahi mempertanyakan mana yang benar.

Singkatnya, di balik penanaman paham bahwa PKI itu identik dengan kekejaman dan pemberontakan. Memang ada fakta lain yang berseberangan, yakni ada kekejaman lain yang justru diciptakan untuk membalas kejahatan PKI.

Dengan kata lain di sejarah kelam pemberontakan itu, ada sejarah lain yang lebih kelam setelahnya. "Sejarah kelam itu menjadi isu yang tabu untuk diperbincangkan. Bahkan pengungkapan fakta atas kejadian itu seolah menjadi hal yang haram untuk dibuka," ujar peneliti Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Saras Dewi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut