Meyakinkan Pariwisata Bali Tetap Aman
- Bobby Andalan (Bali)
Kondisi kawah letusan yang tercipta akibat letusan tahun 1963 sudah sangat terbuka, tak ada lagi sumbatan. Saat ini, sudah ada celah bagi magma di perut gunung untuk menciptakan letusan.
Berjuang Yakinkan Bali Aman
Erupsi Gunung Agung berdampak luas. Pastinya, sektor pariwisata kena imbas. Dua destinasi wisata terbesar di Tanah Air, Bali dan Lombok, terancam kehilangan pemasukan besar di saat musim liburan.
Industri pariwisata Bali saat ini sedang berjuang keras. Di tengah erupsi Gunung Agung yang saat ini belum mencapai klimaks, perjuangan pebisnis di Bali adalah bagaimana meyakinkan wisatawan bahwa daerah tersebut masih aman dikunjungi.
Aura kepanikan para pemilik toko yang terus berusaha meyakinkan wisatawan bahwa keadaan aman, sangat menyelimuti. Namun, erupsi Gunung Agung pun mengungkapkan cerita lain.
"Kami masih buka, jaraknya 18 kilometer dari gunung berapi. Gunung lain melindungi kami, angin dan abu tak sampai ke Amed," kata Nyoman Miskin Aryana dikutip dari South China Morning Post, Kamis 30 November 2017.
Aryana adalah pengelola sebuah rumah singgah berisi tiga kamar di Amed, sebuah desa pesisir Bali yang populer dengan wisata baharinya. Sebelum letusan ini, bisnis pariwisata di Amed yang terletak di pantai timur Bali memang lambat perkembangannya.
Saat ini, sekitar 100 ribu orang tinggal di dalam zona bahaya. Amed dan sebagian desa yang melapisi garis pantai distrik Karangasem berada di luar zona bahaya resmi.
Namun, kondisi itu pun tidak menguntungkan bagi desa itu. Lokasinya yang diapit oleh gunung dan laut sejak Gunung Agung bergolak pada September lalu, sepi pengunjung.
"Penduduk setempat yang mengelola rumah singgah, restoran, atau penyewaan motor sedang berjuang," kata seorang Prancis yang mengelola penyewaan alat selam di Amed, Arnaud Billon.
Arnaud menceritakan, kala itu tempatnya sedang melakukan lokakarya instruktur selam pada saat Gunung Agung pertama kali bergetar sepanjang hari pada September lalu. Wisatawan panik tempat usahanya akhirnya ditutup sementara.
Situasi mulai membaik, menurutnya, pada November, sejumlah wisatawan pun datang. Namun, hal itu tak berlangsung lama, hingga kini muntahan abu vulkanik Gunung Agung membuat bisnisnya kembali terganggu.
