Meyakinkan Pariwisata Bali Tetap Aman
- Bobby Andalan (Bali)
Dikutip dari Reuters, pada Kamis 30 November 2017, penutupan bandara tersebut membuat sejumlah maskapai penerbangan dunia membatalkan penerbangan hingga mengalihkan sejumlah penerbangannya ke tujuan lain.
Bahkan, jika kondisi Gunung Agung kembali meningkat, para ahli penerbangan menyatakan, maskapai sebaiknya mempertimbangkan untuk mengurangi frekuensi penerbangan ke Bali dalam jangka panjang untuk kurangi risiko.
Chief Executive AirAsia, Tony Fernandes dalam tweet-nya mengatakan, untuk mengatasi situasi tak pasti akibat letusan Gunung Agung, pihaknya akan mempertimbangkan untuk memindahkan penerbangannya ke tujuan lain.
Selain itu, maskapai penerbangan dunia lainnya menyatakan akan menawarkan beberapa pilihan untuk meminimalkan dampak jangka pendek dan mengajak pelanggannya mengantisipasi gangguan setidaknya hingga 4 Desember 2017.
"Jika situasi ini berkepanjangan selama dua sampai tiga bulan, maskapai mungkin saja mengurangi penerbangan mereka di Bali hingga musim panas yang akan datang yaitu hingga akhir Maret 2018," kata Chief Executive perusahaan riset transportasi Crucial Perspective, Corrine Png.
Corrine mengungkapkan, dalam satu hari jika Bandara Ngurah Rai Bali ditutup, maka total pendapatan sekitar 47 maskapai yang terbang ke Pulau Dewata akan hilang sekitar US$5 juta atau setara Rp67,5 miliar (kurs Rp13.500 per dolar)
"Ini akan semakin buruk bagi maskapai penerbangan terlebih saat ini berada dalam puncak musim perjalanan liburan dan rute Bali sangat menguntungkan," katanya.
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat kunjungan ke Sabang pun memperkirakan, kerugian akibat erupsi Gunung Agung mencapai Rp9 triliun. "Hitungnya per hari saja Rp250 miliar devisa kita hilang untuk Bali," terangnya.
Erupsi Gunung Agung di Bali memang mulai mengganggu denyut nadi ekonomi setempat dan akhirnya berdampak negatif secara nasional. Sebab, industri pariwisata di Bali merupakan salah satu andalan penerimaan negara.
Menurut data Badan Pusat Statistik, produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Bali saat ini di atas rata-rata nasional. Pada semester I-2017 tercatat ekonomi Bali tumbuh 5,8 persen di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 persen.
Pemerintah, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, terus memantau dengan intensif seberapa besar dampak dari erupsi ini menghantam perekonomian di daerah tersebut.
