Contek Inspirasi Busana Muslim Lebaran dari Ajang MUFFEST 2021
- Dokumentasi Muffest 2021
Penggunaan bahan dalam koleksi kali ini didominasi oleh kain parasut yang ringan, tipis dan mampu menangkal air sehingga memberikan rasa aman bagi pemakainya dikombinasikan dengan bahan lainnya seperti katun, semi wol, satin dan sutera. Warna neon kembali ditonjolkan sebagai representasi dari keceriaan dan optimism di padukan dengan warna gelap sebagai representasi dari kondisi pandemic yang belum sepenuhnya normal.
Raegita Oktora memulai kiprahnya di bidang fashion sejak tahun 2010 dan pada tahun 2015 Raegita bersama suami membentuk Raegitazoro dengan logo berupa huruf R dan Z. di bulan Januari 2019, Ragita Oktora mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk bergabung dan belajar lebih banyak lagi dalam Indonesian Fashion Chamber.
Roemah Kebaya Vielga
- Muffest 2021
Dalam fashion show kali ini, Roemah Kebaya Vielga mengambil tema “Fleuri Noir”yang berarti Hitam yang berkilau (Bersemi) yang diambil dari masa pandemic yang gelap menuju waktu yang penuh cahaya dan bunga yang dilambangkan di design dengan pemilihan bahan yang serba hitam yang kemudian dibalut dengan bordir penuh bunga bunga meriah.
"Mengapa kami sebut masa kegelapan (Noir)? Karena tentu saja selama pandemic banyak sekali kekhawatiran pada semua semua orang, tidak hanya kekhawatiran dalam masalah kesehatan, tapi tentunya dalam hal usaha, yang mana adanya keresahan dan ketidakpastian dalam bekerja, dan juga usaha kami yang sempat mengalami penurunan cukup signifikan selama 2020," kata Vielga Wennida sang designer lewat rilis yang diterima VoxPop.
Dan mengapa Vielga sebut bersemi (Fleuri)? Karena awal 2021 sudah terlihat kembali akan harapan baik yang di tunggu tunggu dengan membaiknya kondisi perekonomian dan usaha mulai berjalan dengan baik. "Januari 2021 sampai April 2021 sudah menunjukkan geliat peningkatan yang siginifikan bagi usaha kami, aktifitas produksi sudah mulai kejar kejaran lagi seperti sebelum masa corona."
Untuk koleksinya kali ini, Vielga juga mengikutsertakan 3 orang anak SMK Tata Busana dari SMK Jakarta yaitu SMK 38 Cililitan, untuk ikut serta membantu menciptakan design yang tercipta selama masa pandemi. "Semua ide kita tuangkan dalam design ini, dan mereka ikut karena memang ingin mempelajari sekaligus ingin membuktikan bagaimana bisnis di dunia fesyen yang menurut orang sekeliling mereka ada stigma sekolah tata busana adalah sekolah yang levelnya paling bawah di SMK”.
