Kisah Atlet Muda Indonesia ke Panggung MMA Dunia: Darah Muda Mental Baja Diasah Pertacami
- Pertacami
“Dulu bapak cerita kepada saya kalau dia gagal mencapai cita-citanya, yaitu sebagai tentara, TNI, karena kurangnya prestasi atau bakat yang dia punya, walaupun dia itu seorang atlet. Tapi dulu katanya atlet itu tidak berharga di Indonesia ini, tidak ada harga dirinya karena sudah dianggap biasa seperti itu, tidak bisa membanggakan nama indonesia,” cerita Jerico.
Tidak bisa dipungkiri, tidak semua atlet mendapatkan sorak-sorai dan tepuk tangan sepanjang hidupnya. Seringkali ketika tirai ditutup, sorotannya pun ikut meredup. Hal ini juga yang mungkin terjadi pada ayah Jerico yang dulunya adalah seorang atlet kickboxing.
Ayah Jerico menggeluti kickboxing, salah satunya adalah untuk bertahan dari kerasnya kehidupan di Simalungun. Tak banyak yang Jerico tahu soal kiprah sang ayah di atas ring. Yang Ia tahu jelas, sang ayah kerap diremehkan.
Beberapa dekade lalu, profesi atlet memang kerap dianggap sebelah mata di Indonesia. Jangankan atlet yang belum mengangkat piala atau menggigit medali, atlet yang memiliki prestasi di kancah internasional pun belum tentu terjamin masa depannya.
Ayah Jerico sendiri sampai gagal untuk bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) karena minimnya prestasi. “Dulu bapak cerita, karena tidak adanya perkembangan dari bela diri ini, dulu dia, korban sih, lebih ke korban, kalau dia dibilang atlet itu tidak ada gunanya, atlet itu tidak ada manfaatnya, faedahnya, tidak menghasilkan duit,” ungkap Jerico.
“Mungkin itulah kata-kata teman bapak saya, atau orang tua dari orang tua saya, dan dia (ayah Jerico) tetap menantang penuh bahwa bela diri itu tidak sereceh itu,” sambungnya.
Kendati kisah ayahnya bukan kisah yang manis untuk didengar dan secara jujur ia akui bahwa hal itu sedikit membuatnya gentar, namun api semangat dari diri Jerico tidak padam.
Ia tahu bahwa pilihan hidup sebagai atlet masih kerap dipandang sebelah mata, belum lagi ketidakpastian di sepanjang perjalanannya. Namun, keluarga menjadi alasan terbesarnya untuk terus maju.
Ditambah lagi, Jerico ditempa di sasana yang dibangun oleh ayahnya sendiri, yang saat ini terafiliasi dengan Patunggung Simalungun Siantar Club (PSSC).
