Kekuatan Doa di Ruang Operasi
Selasa, 24 November 2015 - 19:30 WIB
Sumber :
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
Baca Juga
Jadilah, setelah saya istighfar, mohon ampun berkali-kali atas segala ‘kebandelan’ saya, Alhamdulillah saya merasa siap lahir dan batin untuk kembali hamil, melahirkan, dan nantinya InsyaAllah mempunyai seorang bayi. Heuheu, meski sejujurnya, saya sudah lupa bagaimana cara merawat bayi. Bahkan lupa bagaimana rasanya hamil dan melahirkan.
Baca Juga
Sebetulnya riwayat medis kehamilan saya yang pertama saja sudah cukup heboh. Saya menderita minus mata yang cukup tinggi. Terakhir periksa, saya minus delapan dan lima, dengan silindris setengah dan tiga perempat. Bagi penderita minus mata tinggi memang sulit melahirkan dengan cara normal, karena saat mengejan bisa menyebabkan syaraf mata pecah dan lebih lanjut menyebabkan kebutaan permanen.
Selain itu sejak gadis, saya punya ambeien yang repotnya kian hari kian gawat saja. Nah, bagi para penderita ambeien pun tidak disarankan melahirkan secara normal. Saat dia mengejan, dikhawatirkan syaraf ususnya pecah pula. Gawat kan?
Penyakit ketiga yang baru saya ketahui saat kehamilan pertama adalah ada myoma (sejenis kista) di rahim saya yang tumbuh bareng si bayi. Setiap saya makan itu artinya sama dengan ngasih makan si bayi dan si myoma. Dalam beberapa kasus, myomanya gede, si bayi gugur. Waktu saya hamil pertama, secara ajaib, si myoma (ada beberapa biji, diameternya sekitar dua senti) tumbuh dan si bayi juga tumbuh dengan bahagia. Saat melahirkan dengan operasi cesar (sectio elective), sekalian mengeluarkan si bayi, si myoma juga diangkat. Nah, pada kehamilan kedua, ternyata si myoma nongol lagi!
Kehamilan kedua saya jalani dengan penuh rasa syukur. Karena bagaimanapun saya dikeroyok macam-macam penyakit, Allah tetap sayang sama saya. Saya dikasih kesempatan hamil lagi. Meski usia saya juga termasuk risiko tinggi (37 tahun).
Pas pada bulan ketiga kehamilan, dari hasil lab, ketahuan kadar gula darah saya tinggi banget. Beberapa kali cek bervariasi antara 422 hingga 140. Padahal batas normal adalah 140. Hasil diagnosisnya, saya menderita DMG (Diabetes Melitus Gestasional), alias kencing manis semasa hamil.
Sejujurnya saya nggak
Halaman Selanjutnya
yakin sama hasil lab itu. Meski secara genetik, saya memungkinkan punya penyakit tersebut, namun secara kebiasaan sehari-hari saya merasa sehat-sehat saja. Sudah enam tahun saya berhenti mengonsumsi softdrink berkarbonasi tinggi dan sedang mulai berhenti mengonsumsi minuman botol dan manis. Laju beku darah saya bagus. Saya juga tidak menemukan urine saya dirayah semut misalnya.
