Kekuatan Doa di Ruang Operasi

Ilustrasi Ruang Operasi
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar

img_title Belajar Mengulik Kuliner dari Pak Bondan

Segala teori tentang mengejan saya coba ingat saat itu. Di antaranya tarik nafas saat terjadi kontraksi, dan jangan mengangkat panggul saat sedang kontraksi. Sakitnya... masyaAllah... seperti orang mau BAB dan BAK. Mulesnya sampai sekujur tubuh. Keringat sebesar biji jagung merembesi seluruh tubuh saya padahal ruang VK di Rumah Sakit itu dingin sekali. Suami yang mendampingi saya terus memegang tangan saya dan berzikir. Ia menyemangati dan menyabarkan saya untuk juga terus berzikir.
img_title Klenteng Hok Tek Tong Penyelamat Eddy


img_title Takut Jalanan Rusak Warga Demo Galian C di Sungai Pemali
Ya, yang saya ingat saat itu... Allah... Allah... Dalam rintihan saya, saya menyeru lirih... 'Ya Allah, sakiiit... Ya Allah... sakit...'. Segala kalimat thayyibah saya coba lantunkan sambil menarik nafas sehingga lama-lama saya merasa tenang. Perlahan badai kontraksi itu berlalu, seiring suster menyuntikkan pereda rasa sakit di anus dan paha.

Esok paginya, saya menghadapi operasi setelah salat dhuha dan salat hajat. Sepenuh hati saya mohon kepada Allah agar saya tidak pingsan dan mengalami hipothermia seperti saat kelahiran anak pertama enam tahun lalu.

Subhanallah... Allah mengabulkan doa saya. Saya bertahan hingga anestesi spinal diinjeksikan melalui tulang belakang saya. Saya masih bisa mendengar dokter-dokter itu mengajak saya ngobrol, dan suster menepuk-nepuk pipi saya, menjaga agar jangan sampai saya tertidur. Saya sukses menjalani operasi dengan bius lokal dan mendengar tangisan bayi laki-laki saya pertama kali. Saya menangis terharu saat bayi yang baru lahir itu diletakkan di dada saya dan diciumkan ke pipi saya. 'Alhamdulillah...' itu saja yang bisa saya katakan.

Bayi laki-laki saya lahir dengan berat 3,8 kilo dan panjang 50 cm, pada tanggal 15 Mei 2008 jam 8 pagi lewat 12 menit. Gendut dan sehat. Alhamdulillah... Saya sangat bersyukur walaupun setelah itu masih harus mengalami sakit luar biasa (kembali) saat recovery proses penyusutan rahim (kayak kontraksi lagi). Sampai sekarang pun (saat menulis ini) masih belum pulih betul.

Meski sempat memiliki kadar bilirubin tinggi (13,1 dari batas normal 11), dan mengalami terapi Blue Light, bayi saya bisa merasakan colostrum dan ASI walaupun sedikit. Sementara kakaknya dulu hanya dapat colostrumnya saja.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut