Kekuatan Doa di Ruang Operasi
Selasa, 24 November 2015 - 19:30 WIB
Sumber :
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
yakin sama hasil lab itu. Meski secara genetik, saya memungkinkan punya penyakit tersebut, namun secara kebiasaan sehari-hari saya merasa sehat-sehat saja. Sudah enam tahun saya berhenti mengonsumsi softdrink berkarbonasi tinggi dan sedang mulai berhenti mengonsumsi minuman botol dan manis. Laju beku darah saya bagus. Saya juga tidak menemukan urine saya dirayah semut misalnya.
Namun, dokter internis dan gizi menyarankan saya diet gula dan karbohidrat, serta suntik insulin. Saya jelas bete banget. Susu ibu hamil saja nggak boleh. Diganti dengan terapi tablet kalsium dosis tinggi.
Jelas saya ngeri dong. Gimana bayi saya? Apalagi insulin kan diragukan kehalalannya. Saya dengar insulin banyak dibuat dari pankreas babi. Kalau ada yang dari pankreas sapi, mahal banget.
Betapa sedihnya saya ketika baby di perut mulai menendang-nendang ibunya. Tandanya dia laparkah? Cukupkah asupan gizi yang saya berikan padanya? Apakah dia nantinya tidak kekurangan kalsium alami dari susu? Begitu banyak pertanyaan yang mengganggu di benak saya. Saya kemudian memutuskan tetap berusaha mencari second opinion sambil terus berdoa.
Maka saya menjalani 'diet modifikasi ala saya'. Saya menimbang setiap asupan makanan, tanpa suntik insulin dan dengan pengurangan dosis tablet kalsium itu tadi. Satu-satunya hal yang tidak putus saya lakukan adalah setiap malam saya berusaha bangun shalat hajat. Saya berdoa sama Allah agar saya dan bayi saya di rahim dikuatkan dan diberi kesehatan. Saya yakin Allah mendengar curhat saya dan mengabulkannya.
Sementara keadaan fisik saya selama hamil kedua ini cukup menyedihkan. Dengan Hb sangat drop, sempat mencapai point 60, saya masih menulis dan menyelesaikan lebih dari 8 judul buku. Saya muntah-muntah, muncul flek dan keputihan sepanjang trimester pertama dan kedua.
Saya sering nyaris pingsan pada trimester ketiga. Bahkan saya nyaris tidak kuat berjalan jauh, walaupun menggunakan taksi atau mobil sendiri. Naik metro mini sudah tidak berani sama sekali, takut jatuh, pingsan, dan takut muntah karena mencium aneka bau.
Analisa si gula darah makin kacau dan fluktuatif. Saya makin menguatkan doa saya. Saya percaya pada keajaiban tangan-tangan Tuhan in the last minute. Dua minggu sebelum operasi, saya kontraksi hebat hingga nyaris kejang, sehabis shalat maghrib. Dan semalam sebelum operasi kembali saya mengalami kontraksi, yang ternyata sudah masuk bukaan satu.
Baca Juga
Namun, dokter internis dan gizi menyarankan saya diet gula dan karbohidrat, serta suntik insulin. Saya jelas bete banget. Susu ibu hamil saja nggak boleh. Diganti dengan terapi tablet kalsium dosis tinggi.
Jelas saya ngeri dong. Gimana bayi saya? Apalagi insulin kan diragukan kehalalannya. Saya dengar insulin banyak dibuat dari pankreas babi. Kalau ada yang dari pankreas sapi, mahal banget.
Betapa sedihnya saya ketika baby di perut mulai menendang-nendang ibunya. Tandanya dia laparkah? Cukupkah asupan gizi yang saya berikan padanya? Apakah dia nantinya tidak kekurangan kalsium alami dari susu? Begitu banyak pertanyaan yang mengganggu di benak saya. Saya kemudian memutuskan tetap berusaha mencari second opinion sambil terus berdoa.
Maka saya menjalani 'diet modifikasi ala saya'. Saya menimbang setiap asupan makanan, tanpa suntik insulin dan dengan pengurangan dosis tablet kalsium itu tadi. Satu-satunya hal yang tidak putus saya lakukan adalah setiap malam saya berusaha bangun shalat hajat. Saya berdoa sama Allah agar saya dan bayi saya di rahim dikuatkan dan diberi kesehatan. Saya yakin Allah mendengar curhat saya dan mengabulkannya.
Sementara keadaan fisik saya selama hamil kedua ini cukup menyedihkan. Dengan Hb sangat drop, sempat mencapai point 60, saya masih menulis dan menyelesaikan lebih dari 8 judul buku. Saya muntah-muntah, muncul flek dan keputihan sepanjang trimester pertama dan kedua.
Saya sering nyaris pingsan pada trimester ketiga. Bahkan saya nyaris tidak kuat berjalan jauh, walaupun menggunakan taksi atau mobil sendiri. Naik metro mini sudah tidak berani sama sekali, takut jatuh, pingsan, dan takut muntah karena mencium aneka bau.
Analisa si gula darah makin kacau dan fluktuatif. Saya makin menguatkan doa saya. Saya percaya pada keajaiban tangan-tangan Tuhan in the last minute. Dua minggu sebelum operasi, saya kontraksi hebat hingga nyaris kejang, sehabis shalat maghrib. Dan semalam sebelum operasi kembali saya mengalami kontraksi, yang ternyata sudah masuk bukaan satu.
Halaman Selanjutnya
