Lebak, Sebuah Episode Penjajahan Gaya Baru
- U-Report
Jelas dengan membiarkan Cina masuk, sama halnya membiarkan ikan piranha ke Indonesia. Ikan piranha merupakan predator yang memiliki kemampuan untuk memangsa ikan-ikan lain di Indonesia. Perlahan tapi pasti ikan ini akan menguasai sumber daya alam secara keseluruhan. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melarang masuknya ikan predator tersebut masuk ke Indonesia.
Tugas kita bersama Pemerintah pusat dan daerah untuk membekali warga dengan kemampuan yang cukup dan memadai. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan memberikan pendidikan yang cukup, jika perlu sampai tingkat universitas. Bagaimanapun pendidikan merupakan investasi terbesar bangsa ini yang belum sepenuhnya kita sadari.
Negara maju seperti Finlandia, Jepang, dan Singapura mereka serius terhadap pendidikan. Karena mereka meyakini, 10 atau 20 tahun lagi mereka akan memanen hasilnya dari apa yang mereka tanam hari ini. Sadar ataupun tidak hari ini kita telah kembali ke masa kelam lagi seperti dulu yaitu penjajahan oleh kolonial Belanda dan Jepang. Hanya aktornya saja yang berubah yaitu menjadi Cina.
Ini merupakan penjajahan gaya baru, karena pada dasarnya sama saja, kita tetap dijajah. Penjajahan gaya baru ini dikemas sebagai upaya dalam balutan mitra kerja. Bukankah sebenarnya Indonesia bisa mengelolanya sendiri tanpa harus ada campur tangan Cina? Sayangnya, lagi-lagi kebijakan Pemerintah tidak pernah berpihak untuk rakyat. Para petinggi negara yang seharusnya mengaspirasikan suara rakyat malah mengorbankan masyarakat lagi pada akhinya.
Telah lama rakyat menderita dan berharap pemimpin mereka peduli tentang nasib rakyatnya. Sayang, mereka teramat sibuk untuk mendengar rintihan dan jeritan rakyat yang teramat menderita. Ketidakadilan terjadi lagi hari ini, seperti dahulu saat Multatuli menentang ketidakadilan. Akan adakah Multatuli lain yang lahir dinegeri ini, yang geram dengan kebijakan para penguasa. Semoga. (Tulisan ini dikirim oleh Gigin Ginanjar, Banten)
