Kisah Seorang Istri tentang Suaminya Pecandu Ganja

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Bungkus ganja kudapat di dalam saku celana jeans kusam yang entah telah berapa lama ia kenakan. Dalam tidurpun ia masih sempat meracau bahwa ganja itu paling enak dan mahal harganya. Aku percaya, tapi aku tak yakin bagaimana ia bisa mendapatkan ganja sejumlah itu dengan mudah sedangkan dompetnya selalu kosong.

img_title Deretan Senyawa Pengobat pada Ganja

Bayi perempuan kami lahir dengan normal. Ia menerima bayi kami dengan sukacita. Belum pernah kulihat rona bahagia dalam dirinya seperti hari itu. Ia terus menimang-nimang bayi kami sampai beberapa hari ke depan. Saat usia bayi itu lebih sebulan, ia menghilang. Tak pulang lebih sebulan, tak ada tanggung jawab yang mesti ia lunasi. Tak ada rasa malu kepada keluargaku yang pontang-panting menjaga dan merawat wanita baru melahirkan ini. Ia santai. Sesantai saat kembali dengan sempoyongan.

Pria itu teler lagi! Lebih parah dari yang pernah kulihat. Entah berapa banyak ganja yang dihisapnya. Ia menarik-narik lenganku untuk beranjak dari bayi kami yang belum terlelap. Aku menepis. Ia menampar sekali hentakan tangan. Aku tersungkur. Ia mencabik-cabik hingga pakaian yang kukenakan sobek. Ia menjamahku seperti bukan istrinya. Ia menghentak-hentakkan nafsunya dengan ganas tanpa peduli sakit yang kuderita. Puas dengan itu, ia terbirit keluar kamar dan kemudian kutahu ia duduk di bawah pohon durian dengan asap mengepul dari hidung dan mulutnya. Ia kembali teler.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Seperti yang telah kukatakan, ia tak pernah membentak. Suaranya selalu lembut. Hanya tangannya yang mudah jatuh menjuntai ke pipi maupun ke badanku. Jangan kamu tanya berapa banyak sembab dan bekas pukulan itu. Aku sendiri malu untuk mengakuinya. Ia tak pernah berhenti memukul tiap kali pulang ke rumahku. Tabiat yang kemudian diketahui oleh kedua orang tuaku.

Ada saat kedua orang tua memintaku untuk pisah dengan pria itu. Namun, aku selalu enggan untuk memulai pembicaraan ke arah itu. Saat ia benar-benar sadar, sifatnya seperti malaikat. Ia menjagaku dan anak kami dengan sebaik-baiknya manusia. Ia berbicara selembut-lembutnya pria yang pernah kukenal. Ia bermain dengan anak kami sepanjang waktu sampai aku benar-benar bahagia melihatnya. Tapi itu, tak pernah berlangsung lama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut