Kisah Seorang Istri tentang Suaminya Pecandu Ganja
- U-Report
Waktu yang terus berlalu mengajaknya untuk berangkat. Aku tahu ia pulang ke rumah orang tuanya. Ke kamar tercinta yang gelap, tak ada jendela dan lampu satupun. Ia akan menghisap ganja sepuas hati sampai mata berkunang-kunang dan sampai tubuh lemas tak berdaya. Saat di dalam kamar itu, berhari-hari ia tak makan dan minum, ia tak pernah pula membuka pintu untuk siapapun. Persediaan yang ada di dalam kamar itu hanya bungkusan ganja dan rokok.
Saat ia benar-benar yakin tenaga telah terisi penuh, maka ia akan keluar kamar dengan mata merah, jalan melambai, dan tampak benar-benar pulih. Bahkan, sama seperti manusia normal pada umumnya. Ia bersikap happily ever after terhadap apapun yang terjadi di dalam kamar itu.
Pernikahan kami telah mencapai usia tujuh tahun. Sikapnya tak pernah berubah dan semakin menjadi-jadi. Hidupnya lebih banyak teler daripada berada di alam nyata. Ia lupa kepadaku dan anak kami. Ia teramat sering di dalam kamar gelap itu dibandingkan pulang untuk menjenguk kami. Bahkan, saat anak kami demam tinggi tak tahu kepada siapa aku berteriak. Tangisku berhenti di relung hati tak ada bayangan. Aku mondar-mandir puskesmas dan rumah untuk menyesuaikan kebutuhan kami. Aku dan ibu yang menjaga anakku sampai benar-benar sembuh.
Aku datang menjemputnya, namun berulangkali kugedor pintu kamar gelap itu tak ada sahutan sama sekali. Aku tahu ia ada di dalam sana. Aku tahu ia mendengarku, entah sebagai bidadari di alam khayalan, entah sebagai petir yang membangunkan sakaunya.
Hari yang lewat setelah itu, bisa kuhitung waktu ia bersama kami. Ia bermain-main dengan kehidupannya yang tak lagi remaja. Ia seperti anak muda baru tamat SMA dengan beragam perangainya. Ia mencari makan untuk diri sendiri. Memancing dapat satu ikan pun tak apa. Memetik kangkung hanya segenggam tak masalah asalkan bisa direbus dengan garam. Bantu-bantu orang asalkan dapat semangkuk beras telah biasa baginya. Ia tak membawa pulang apa-apa kepada keluarga kami, kepadaku, dan anak kami. Bisa kukatakan, ia tak pernah pulang lagi karena rumahnya hanya di dalam kamar gelap itu saja.
