Kisah Seorang Istri tentang Suaminya Pecandu Ganja
- U-Report
“Apa salahku padamu, Bang?” tanyaku kepadanya. Aku sengaja datang menghampirinya, suami dan ayah anakku. Ia sedang tak teler kala itu. Ia duduk manja di depan rumahnya yang tak terawat. Rumah itu telah lama dimakan rumput. Lumut bersarang di bagian yang dirembesi air hujan. Kursi kayu telah lama patah dan dimakan rayap. Aku sungguh berharap ia mengeluarkan sebuah pernyataan. Namun sampai pada batas kesabaranku habis, dari siang sampai sore aku duduk tak ada sahut-sahutan dengannya.
Aku pulang. Ekor mataku melihat ia berlari ke kamar gelap. Baginya, hidup ini hanya untuk bersenang-senang. Aku ingin mengajaknya pulang ke rumah, membangun keluarga bahagia kami. Sampai riwayat hidupku habis pun ia tak berubah. Aku menyakini satu hal setelah itu. Ia tak mau berbenah. Ia terlarut dalam masa muda keemasan yang enggan ia lepas. Ia masih belum puas dengan apa yang dijalani dan diyakininya benar untuk ditekuni.
Ia lupa usia tak pernah mengingat pada masa. Usia kami terpaut delapan tahun. Dua tahun lagi usianya akan masuk ke angka empat puluh. Namun ia masih terlena dan beranggapan bahwa dirinya masih sangat muda. Rupa tak menjamin bahagia. Cinta tak selamanya memihak kepada rasa. Aku telah memulai dengan sebuah raga dan kehalusan kata-kata. Aku terbuai dengan bujuk rayu hingga akhirnya pecah terterurai kembali.
Jika pada masa muda kami ia begitu mudahnya meminta kembali saat putus, kini aku tak tahu harus menempuh jalan mana untuk bisa membawanya kembali. Aku berada di ambang penyesalan. Apa aku telah durhaka karena menipu orang tua? Entahlah. Darah mudaku kala itu berkata lain. Darahku kini pun berkata lain.
Aku bertanya-tanya, siapa pria yang mau dijodohkan denganku kala itu. Mungkin aku bisa mengenalinya kini. Entah untuk apa. Sisi jahatku memuncak tajam. Aku ingin membandingkan pria itu dengan suamiku yang bagai silet tak pernah tumpul. Aku ingin memulai yang baru jika itu memungkinkan nanti. (Cerita ini dikirim oleh Bairuindra)
