Cerita di Balik Sepiring Nasi Campur
Satu yang mengkhawatirkan adalah, seperti yang saya bilang di awal, mall ini tuh sangat sepi. Bahkan saya bisa menghitung dengan jari jumlah orang yang makan di food court ini setiap harinya. Dari banyaknya kios makanan di sini, ada satu kios yang cukup menarik perhatian saya. Menariknya karena yang menjaga kios ini adalah pasangan suami istri yang sudah berumur. Dibanding disebut om dan tante, kayaknya lebih cocok dipanggil kakek dan nenek atau oma dan engkong.
Nama kios mereka itu adalah "Ini Echo" dengan logo jempol (echo itu bahasa Jawa yang artinya enak). Hal yang bikin saya miris dan sedih karena mereka menyewa tempat di mall yang sepinya kayak kuburan. Jadi pasti sedikit sekali yang mampir ke kios mereka buat beli makan.
Saya biasa mulai wifi dari jam 3 sore sampai jam 7 malam, dan rasanya sedikit banget orang yang mau beli makan di situ. Jujur, saya tidak tega melihat muka si kakek dan nenek yang duduk menjaga kios sambil lihat orang lalu-lalang tanpa menengok kios mereka. Mama saya pernah bilang, "Yang namanya jualan itu ada pasang surutnya. Kalau jualan gak laku ya dek, pasti mereka gak akan jualan lagi. Bisa saja waktu kamu lagi gak ada, yang beli banyak."
Omongan mama setidaknya bisa tenangin hati saya. Tapi, hampir setiap hari saya di sini, dan dari hitung-hitungan saya dalam satu minggu tidak sampai 10 orang yang beli loh. Setiap ada yang beli atau mampir di kios mereka, saya selalu senang. Kalau lihat kios mereka lagi sepi, kadang saya juga jadi sedih. Walau saya tidak ada sangkut pautnya atau sama sekali bukan urusan saya, tapi entah kenapa saya tetep merasa sedih banget.
Pernah di suatu hari, kebetulan mereka tidak berjualan. Saya melewati kios mereka yang berjualan Chinesse Food seperti lontong cap gomeh, nasi campur, dll. Di tembok kios mereka saya lihat ada tulisan, "Jika kita punya 100 masalah ingatlah bahwa Tuhan mempunyai 101 cara untuk menyelesaikannya". Ada juga satu foto mereka berdua lagi senyum sambil berangkulan. Duh, saya makin tidak tega lihatnya. Entah saya yang terlalu sentimentil atau saya yang lebay ya, hal sepele terlalu saya besar-besarkan.
