Cerita di Balik Sepiring Nasi Campur
Wuih, saya ngebayangin muka mereka senang karena dapat orderan banyak. Saya selalu senang kalau melihat orang lain juga senang, menunjukkan senyum bahagia, dan bersyukur. Kadang saya suka mikir ya, ngapain saya malah sibuk mikirin hal yang sama sekali tidak ada untungnya buat saya. Apalagi saya itu sebenarnya paling tidak suka ikutan organisasi-organisasi kayak gitu Karena saya juga punya kesibukan sendiri. Tapi buat kali ini, saya maksain diri buat ikutan. Hidup itu bukan soal untung dan rugi, masih banyak yang bernilai daripada itu.
Setelah beberapa kali rapat, akhirnya saya benar terpilih buat jadi seksi konsumsi. Estimasi awal diperkirakan bakalan pesan 100 boks dengan harga 25 ribu rupiah per boks. Soal isi menu semuanya terserah saya. Saya senang banget setelah dapat kepastian ini. Senang karena bakalan bisa kasih kabar menggembirakan buat si kakek dan nenek.
Setelah mendapat kepastian, saya langsung menuju ke mall tempat biasa saya wifi. Setengah berlari, saya lansung menuju ke lantai 2, ke tempat food court. Sesampainya di sana, saya langsung menuju kios si kakek dan nenek. Tapi sayang, waktu saya datang mereka lagi tidak berjualan. Libur kali ya, pikir saya saat itu.
Anehnya, tiga hari berturut-turut ke situ, kios mereka selalu tutup. Apa mungkin mereka sudah tidak jualan ya? Saya memberanikan bertanya ke kios sebelahnya, kios siomay. Kata mbak yang jaga, mereka sudah tidak jualan lagi di sini karena sepi. Duarrrrr, saya sedih plus kecewa banget dengarnya. Sedih karena saya tidak bisa ketemu mereka lagi, plus kecewa karena saya telat memberi kabar baik buat mereka.
Saya tanya ke kios di sebelahnya, tapi tidak ada yang tahu nomor kontak si kakek dan nenek ini. Saat itu saya berpikir, mungkin bukan rezeki mereka. Akhirnya, daripada saya repot mencari katering, saya pun minta tolong mama saya buat tangani semua pesanan buat konsumsi Natal nanti.
Bulan berikutnya, kios "Ini Echo" milik kakek dan nenek itu sekarang sudah berganti menjadi kios fried chicken. Rasanya ada yang kurang buat saya. Biasanya kalau saya lagi nulis di sini, sesekali mata saya melirik ke arah kios milik mereka. Kadang saya suka senyum-senyum sendiri, melihat mereka bercanda satu sama lain. Melihat si kakek menguatkan si nenek, melihat si kakek dengan sigap membawa nampan pesanan ke orang yang memesan. Mungkin saya tidak akan bertemu mereka lagi, tapi satu yang pasti ada perasaan lega buat saya, setidaknya saya pernah makan masakan mereka.
