Cerita di Balik Sepiring Nasi Campur
Sampai sekarang, setiap saya ke mall itu satu yang pasti terlintas di pikiran saya adalah bagaimana kabar mereka. Apa mereka masih berjualan? Apa jualannya laris? Bahkan setelah saya mampu buat beli modem sendiri dan semakin jarang ke mall itu, terkadang pikiran itu masih suka muncul di kepala saya.
Tapi ternyata, yang namanya jodoh itu memang tidak ke mana. Di bulan Juni tahun 2016 ini, saat jam makan siang, saya diajak teman saya makan di Pujasera sekitar Sukajadi. Katanya ada steak yang enak banget dan saya mengiyakan ajakkan itu. Sesampainya di sana, saya jalan-jalan di sekitar Pujasera, melihat-lihat orang yang jualan, siapa tahu ada makanan yang lebih enak. Tidak lama, mata saya tertuju ke satu kios. Lupa-lupa ingat, saya perhatiin siapa yang sedang berjaga di sana
Saya berjalan semakin mendekat, dan ternyata si kakek dan nenek itu yang jualan! Nama kiosnya tetap "Ini Echo" dan jualannya juga masih sama, ada nasi campur dan lontong cap gomeh. Saya perhatikan mereka semakin uzur. Terakhir melihat mereka tahun 2008, dan tidak terasa sekarang sudah hampir 8 tahun.
Saya rasa jualan mereka di sini lebih laris dibanding jualan terdahulu. Karena kalau saya perhatikan, mereka berdua jauh lebih sibuk dibanding waktu jaga kios di mall itu. Berani taruhan, 1000 persen mereka pasti tidak akan ingat saya, tapi saya masih selalu ingat mereka. Refleks, saya langsung menuju kios mereka dan tanpa banyak nanya, saya langsung memesan, "Nasi campurnya satu dan lontong cap gomehnya satu". (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)
