Kaleng Kosong Itu Kado Spesial untuk Ibuku

Ilustrasi hadiah/kado
Sumber :
  • Pixabay/Freeimages9

Hampir seharian penuh ibunya bekerja banting tulang, jungkir balik. Pagi bersih-bersih rumah, belanja, memasak, mencuci. Malamnya, jika sempat masih menjahit dan mengajarinya belajar. Bukan main kesetiaan ibunda kepada anak yang sekarang malah tengah terpekur di balik tembok raksasa para berdasi biru itu. "Ibu, kenapa kau korbankan segala-galanya untukku?" tanyanya kepada sang ibu kala malam merangkak dalam desah napas angin kerinduannya kepada sang suami yang telah lama meninggalkannya sebatang kara. Mereka berdua menikmati malam di balkon rumahnya yang tak terlalu luas.

img_title Kisah Penjual Cilok dan Rumahnya yang Nyaris Hancur

Ravid anak semata wayangnya hanya bersandar di pangkuan kakinya menatap langit. Usai sejenak menatap binar wajah ibunya yang mencerminkan kerentaan. "Lihat ke atas, Nak!" pinta beliau yang belum menyadari bahwa Ravid telah menatapnya dan lautan biru yang menggelap dengan kemilauan bintang itu lebih dulu. Beliau menunjuk seribu bintang-bintang itu dengan telunjuknya.

"Kau paham makna bintang itu, Nak?" tanya Sulastri yang tak lain adalah ibundanya. Ravid yang waktu itu baru berumur 11 tahun hanya menggelengkan lehernya. "Bintang adalah simbol keindahan untuk dunia Ibu. Ibu sangat mengagumi bintang daripada rembulan. Karena bintang memancarkan cahayanya sendiri, sementara rembulan bisa terpancar karena pantulan sinar matahari. Ibu ingin kamu seperti bintang, Nak." ungkap Sulastri dengan binaran mata yang kaya akan harapan. "Tapi Ibu, bagaimana aku bisa menjadi bintang? Aku tidak punya cahaya dan aku hanya manusia biasa yang hanya bisa menyusahkan Ibu," terangnya lalu bangkit menatap wajah Sulastri.

img_title Cinta dan Cemburu

Ravid duduk di depan Sulastri. "Caranya mudah Nak, belajarlah sungguh-sungguh dan berpikirlah yang dewasa. Jangan suka menggantungkan hidup kepada orang lain. Seperti rembulan yang menggantungkan hidupnya kepada matahari. Berilah keindahan kepada orang lain dengan jerih payahmu sendiri, Nak." kata Sulastri dengan mantap. Ravid yang waktu itu belum terlalu paham, hanya mengangguk. Tak tahu bahwa anggukannya menyimpan makna harapan yang terdalam bagi Sulastri.

Enam tahun kemudian, saat umurnya menginjak garis tujuh belas. Semburat kekecewaan menghajar sanubari Sulastri. Anaknya dikatakan tidak lulus karena sering membolos dan berkelahi. Ravid memang anak pandai dan bisa dibilang cerdas. Nilainya selalu di atas angka tujuh. Hanya saja, kesibukan orang tuanya yang membuat perilakunya tidak terlahir budiman. Mungkin di depan Sulastri dia bertindak lemah lembut dan penurut, tapi di belakang dirinya dia tak pernah telat membuat onar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut