Kaleng Kosong Itu Kado Spesial untuk Ibuku
- Pixabay/Freeimages9
Sesampainya di depan pintu rumahnya, tak dijumpai manusia agung yang dirindunya itu. Dia masuk ke dalam ruang tengah, barulah di situ dia menemukan Sulastri yang sedang terbaring di kursi panjang ruangan itu sembari mendekap foto dirinya. Dengan pelan dia menepuk pundak Sulastri agar wanita itu terbangun dari tidurnya. Sejenak mata Sulastri terkuak. Beliau nampak berkedip-kedip menetralisir alam sadarnya, lalu mendudukkan tubuhnya.
"Ibu," kata Ravid dengan kelembutan. "Raviiiiiiddddd...." Sulastri langsung mendekap putranya dengan penuh kasih. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu selama ini egois. Ibu tak akan pernah sibuk bekerja lagi, Ibu akan terus menjagamu sampai dewasa. Ibu janji. Ibu telah menabung untuk usaha gado-gado di depan rumah kita. Ibu akan selalu di rumah menemanimu, Nak! Maafkan Ibu..." isakan Sulastri tumpah di bahunya. "Ibu tidak salah," ujar Ravid setengah menahan isakan. "Ibu sangat menyayangimu. Jangan tinggalkan Ibu lagi. Ibu akan di rumah dan mencari nafkah di rumah saja!" terang Sulastri.
"Ibu, maafkan aku! Selamat ulang tahun, Ibu." kilah Ravid sambil membalas pelukan Sulastri. Ravid sengaja memperpendek percakapan. "Terima kasih Nak. Kamu ingat ulang tahun Ibu," Sulastri sangat terharu. "Ibu," panggilnya sambil melepas pelukan Sulastri. "Ravid ingin memberikan kado ini, Bu." tuturnya seraya mengulurkan benda silinder dengan berbungkus kertas batik. "Apa ini, Nak?" tanya Sulastri. "Itu…" Ravid tak berani mengatakan yang sejujurnya.
Akhirnya Sulastri membuka kado itu dengan pelan. Dan ternyata isinya kosong, tak ada apa-apanya. "Kaleng kosong? Tak apalah. Ibu senang mendapat hadiah ini darimu," kata Sulastri walau rautnya menyimpulkan kekecewaan. "Hari-hariku selalu kosong tanpa Ibu. Seperti kaleng itu Ibu. Hariku hampa, jika Ibu tidak ada di sisi Ravid. Ravid menjadi keras dan seperti gembel begini karena Ravid selalu merasa hampa dan merindukan belaian kasih sayang Ibu. Entah bagaimana lagi Ravid melampiaskan kehampaan itu kalau tidak dengan cara mencari kesenangan di dunia luar," kata Ravid sambil sesengukan.
Hatinya benar-benar pahit dan dihunus perasaan sakit yang amat dalam. Bisa dipeluk dan mendengar bahwa ibunya sekarang akan bekerja di rumah adalah hal yang baginya sangat membahagiakan. "Anakku, kaleng ini adalah kado terspesial yang Ibu dapatkan seumur hidup! Kaleng ini menyadarkan Ibu akan arti sebuah kasih sayang dalam keluarga. Maafkan Ibu, Nak." Ucap Sulastri.
