Kaleng Kosong Itu Kado Spesial untuk Ibuku
- Pixabay/Freeimages9
"Kau anak Ibu satu-satunya, Nak. Kenapa kamu tak bisa membanggakan hati ibu?!" bentak Sulastri usai pulang dari sekolah untuk menghadiri pengumuman kelulusan. Ravid hanya menunduk menatap lantai kamarnya yang tak berubin. Tanah merah menempel di kakinya yang terbungkus sepatu usang. Tubuhnya masih terbalut kain putih dan celana abu-abu. Bibirnya dikunci rapat-rapat, tak berani membantah Sulastri sedikit pun.
"Kau sebenarnya anak yang pandai dan cerdas, lantas mengapa tak kau gunakan kecerdasan otakmu itu?" hardik Sulastri. "Kenapa hanya diam saja?" Sulastri mengguncang-guncangkan bahu Ravid. "Jawab pertayaan Ibu, Nak! Ibu lelah bertahun-tahun mencukupi sekolahmu, tapi kamu malah tidak lulus seperti ini," keluh Sulastri dengan aliran butir hujan dari matanya yang menua. "Maafkan aku, Bu." Kali itu Ravid berani membuka mulut, tapi wajahnya masih menunduk.
"Apa maumu, Nak? Apa maumu! Hingga kamu tak mau berjuang menjadi bintang dan mengamalkan kebaikan?" Sulastri jongkok di depan tubuh Ravid. Dia memandang paras Ravid yang berkaca-kaca. "Ravid ingin disayang Ibu. Ravid benci Ibu, karena Ibu selalu sibuk bekerja siang malam. Pagi beres-beres rumah, siangnya kerja sampai jam 12 malam. Itu yang membuat Ravid emosi dan kesal. Ravid ingin berkumpul dengan Ibu. Tapi Ibu selalu tidak ada waktu. Oleh sebab itu..." Ravid diam sejenak. "Apa, Nak? Katakan!" cecar Sulastri. "Ravid sering bolos dan mencari kesenangan dunia luar, Bu." Terang Ravid dengan penuh penyesalan.
Plaaakkkk.. "Kesenangan kamu bilang?!" hardiknya usai melesatkan satu tamparan di pipi Ravid. "Ibu susah payah bekerja mati-matian malah kamu mencari kesenangan?" bentak Sulastri dengan nada serak.
Meluluskan putra semata wayangnya dari SMK ternama di kotanya adalah impiannya sejak Ravid berusia 5 tahun. Dari dulu Sulastri selalu memberikan hal terbaik untuk putranya. Mulai dari memilihkan sekolah favorit dan menyediakan alat-alat belajar seperti komputer, kamus elektrik, buku-buku bacaan. Bahkan mengikutkannya les piano di luar jam belajarnya sewaktu SMP. Tapi ternyata hal yang diyakininya akan berakhir indah, kini telah sia-sia. Semuanya hanya berbalut kenang-kenangan menyedihkan. Lantaran di balik semua itu, Ravid malah suka keluyuran tanpa sepengetahuan Sulastri.
