Media Arus Utama Tak Pernah Adil Memberitakan Setiap Tragedi di Pesantren

Musala di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk menimpa ratusan santri
Sumber :
  • Ist

(Artikel ini ditulis oleh Muhammad Husain Sanusi, Pemerhati Pendidikan Pesantren)

img_title KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren

VoxPop – Viralnya video "Santri Lirboyo Ngecor" sejatinya adalah narasi indah tentang gotong royong dan amal jariyah. Ratusan santri Ponpes Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, secara sukarela terlibat dalam pembangunan fasilitas pesantren sebagai wujud pengabdian. 

Pembangunan ini penting untuk menampung santri yang terus bertambah, dan pihak pengasuh pesantren, telah menjamin bahwa pekerjaan krusial tetap ditangani oleh profesional bersertifikat.

img_title KH Zulfa Mustofa Ajak Hidupkan Tradisi Menulis Kitab demi Menjaga Kesinambungan Ilmu dan Peradaban Islam Indonesia

Namun, alih-alih merayakan semangat kebersamaan ini, sorotan media arus utama (mainstream) justru diarahkan pada satu titik yang paling sensitif: keselamatan. 


Source : FOTO ANTARA/Arief Priyono

img_title Polisi Ungkap Motif Pria Tusuk Tetangga hingga Tewas di Kemayoran: Marah Ditinggal di Pesantren

Berita tersebut seolah dipaksa untuk dikaitkan dengan tragedi ambruknya gedung musala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo. 

Narasi ini, sayangnya, bukan kasus tunggal; ia mencerminkan pola perlakuan tidak adil media terhadap institusi pesantren.

Komunitas pesantren merasakan adanya stigma negatif yang terlanjur melekat. 

Media arus utama sering kali terlihat cepat dan bersemangat dalam membesar-besarkan isu yang berpotensi kontroversi atau tragedi di lingkungan pesantren.

Dalam kasus Lirboyo, isu gotong royong yang murni amal jariyah harus dipertanggungjawabkan di bawah bayang-bayang musibah Al Khoziny.

Ini memaksa para pengasuh, untuk mengeluarkan klarifikasi yang sangat defensif tentang profesionalisme dan desain bersertifikat, seolah pesantren harus selalu membuktikan diri sebagai institusi yang layak untuk berdiri.

Kecondongan media untuk meliput negativitas ini menciptakan citra publik yang timpang. 

Peristiwa tragis di pesantren diberitakan secara masif dan mendalam—suatu hal yang memang penting untuk disorot—tetapi media terkesan "ogah" mengekspos kegiatan positif sehari-hari, seperti prestasi akademik, inovasi santri, atau pengabdian masyarakat.

Ketidakadilan pemberitaan ini semakin terasa ketika pesantren ingin mengangkat kisah-kisah sukses dan kegiatan positif mereka. 

Seringkali, liputan yang bersifat membangun citra positif dan mengangkat narasi amal jariyah harus melalui skema berbayar atau advertorial.

Media seolah menerapkan standar ganda: berita buruk dan tragedi diburu tanpa biaya (demi sensasi dan klik), sementara berita baik menuntut kompensasi finansial.

Opini ini adalah suara dari komunitas pesantren yang menuntut keadilan pemberitaan dari media mainstream.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut