Menghormati Kiai dan Asatiz: Warisan Akhlak dan Etika dari Rasulullah

KH Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon.
Sumber :
  • Azizi Erfan

(Artikel ini ditulis oleh KH Imam Jazuli Lc., MA, Alumni Lirboyo dan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon)

img_title PKB Jateng Sebut Ashari Bukan Kiai, Tapi Dukun Cabul

VoxPop – Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan asatiz merupakan bagian integral dari akhlak dan etika yang diajarkan. Penghormatan ini tidak hanya berupa tindakan fisik, seperti mencium tangan, membungkukkan badan, bahkan mencium kaki, tetapi juga mencakup sikap hati yang penuh hormat dan kasih sayang.

Penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua dalam ilmu agama merupakan warisan dari Rasulullah SAW. Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menghormati guru dan orang yang lebih tua. Misalnya, dalam beberapa hadis shahih yang meriwayatkan cium tangan, sambil menunduk dan mematung, bahkan ada yang sampai mencium kaki Rasulullah, yaitu hadis dari Zarra' al-Abidy. 

img_title Sudewo Respons Kasus Kiai Cabul di Pati: Sangat Memprihatinkan

Riwayat tersebut terdapat dalam beberapa kitab hadis, seperti Sunan Abi Dawud, Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari, dan riwayat lain yang sanadnya shahih dan hasan. Hadis ini menjelaskan bahwa sahabat mencium tangan dan kaki Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setibanya mereka di Madinah.

Misalnya saja riwayat dari Az-Zarra’; ketika shahabat Nabi mencium tangan dan kaki Nabi Saw.

img_title Forum Rois Syuriyah PCNU Jawa Timur Usul Muktamar ke-35 PBNU Digelar di Lirboyo

عَنْ الزارع العبدي وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ: لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا، فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ... (سنن أبي داود، 4/ 357)

Dari Az Zarra’ al Abidiy dia termasuk utusan Abdu Qais berkata: “Ketika kami sampai ke Madinah, kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium  tangan dan kaki Nabi Muhammad ShallaAllah alihi wa sallam...”

Bahkan, ada riwayat orang Yahudi saja bersedia mencium tangan dan kaki nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dan beberapa shahabat Nabi:

عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَحَاصَ النَّاسُ حَيْصَةً... قَالَ: فَدَنَوْنَا فَقَبَّلْنَا يَدَهُ، فَقَالَ: «إِنَّا فِئَةُ الْمُسْلِمِينَ». (سنن أبي داود، 3/ 46)

Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar bercerita kalau ia pernah berada di sebuah rombongan pasukan pengintai (sariyyah) Rasulullah Saw. Kemudian, pasukan melarikan diri dan saya termasuk di antaranya... Ibn ‘Umar berkata: “Kami kemudian mendekati Nabi dan mencium tangannya”. Nabi Saw. merespons dengan mengatakan: “saya adalah bagian dari umat muslim.”

Ada puluhan hadis serupa, selain itu, ada banyak hikayat bahwa para sahabat Rasulullah SAW juga menunjukkan contoh yang baik dalam menghormati guru dan orang yang lebih tua. Mereka akan berdiri mematung ketika Rasulullah SAW datang, dan mereka akan mencium tangannya sebagai tanda penghormatan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut