Menghormati Kiai dan Asatiz: Warisan Akhlak dan Etika dari Rasulullah

KH Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon.
Sumber :
  • Azizi Erfan

Hal tersebut sudah dicontohkan Sayyidina Ali saat mencium tangan dan kaki dari pamannya; Abbas bin Abdul Muthalib:

img_title Wajah Kiai Terduga Pelaku Pelecehan 50 Santri Hingga Hamil Terungkap, Ini Tampangnya!

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُقَبِّلُ يَدَ الْعَبَّاسِ وَرِجْلَيْهِ. (الأدب المفرد، ص: 339)

Dari Shuhaib berkata, saya melihat Ali RadhiyaAllahu anhu mencium kedua tangan Abbas atau kakinya dan berkata, Wahai pamanku! Berikanlah keridhaan kepadaku.

img_title Momen Gus Yahya Peluk Erat Rais Aam saat Islah di Lirboyo, Akhiri Konflik PBNU

Perlu diingat bahwa tindakan Sayyidna Ali ini menunjukkan bahwa ia menghormati pamannya, tidak hanya sebagai orang yang lebih tua dan memiliki hubungan kekerabatan, tetapi juga karena kealiman dan kesolehannya. Dalam budaya Arab pada saat itu, mencium tangan dan kaki seseorang sebagai tanda penghormatan dan kesyukuran adalah hal yang biasa, sama sekali bukan kemusyrikan. Contoh seperti itu kemudian diikuti oleh generasi-generasi selanjutnya, termasuk para ulama dan kiai di Nusantara.

Penghormatan kepada kiai dan asatid juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Pertama, penghormatan ini menunjukkan kesyukuran dan penghargaan atas ilmu dan jasa yang telah diberikan. Kedua, penghormatan ini juga menunjukkan kesadaran akan posisi dan peran kiai dan asatid sebagai pewaris Nabi. Dalam tradisi Islam, ulama dianggap sebagai pewaris Nabi, karena mereka mewarisi ilmu dan hikmah yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.

img_title Rais Aam dan Ketum PBNU Islah di Lirboyo, Sepakat Percepat Muktamar Bersama

Tradisi Pesantren

Salah satu kitab yang populer di Pesantren adalah kitab Talimul Mutaallim karya Azzarnuji. Salah satu doktrin yang mengikuti sunnah nabi dan salafus soleh dalam kitab terabut menyebut:
 
اعلم بأن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به الا بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الاستاذ وتوفيره 

Ketahuilah, sesungguhnya para pencari ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan mengamalkannya kecuali dengan menghormati ilmu dan pemiliknya, mengormati guru (kiai) dan memuliakannya.

Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan asatid diwujudkan dalam berbagai bentuk dan itu secara ushul bersumber dari sunnah dan kitab mu'tabarah. Misalnya, santri akan mencium tangan kiai, membungkukan badan, bahkan sampai "ngesot"  sebagai tanda penghormatan dan kesyukuran atas ilmu yang diberikan. 

Sekali lagi, penghormatan ini memiliki makna filosofis yang3 mendalam dan diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk mencium tangan, membungkukkan badan, dan mencium kaki. Dengan menghormati kiai dan asatid, santri menunjukkan kesyukuran dan penghargaan atas ilmu dan hikmah yang diberikan, serta kesadaran akan posisi dan peran kiai dan asatid sebagai pewaris Nabi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut