Perempuan dan Literasi Digital Indonesia

Literasi Digital Nasional
Sumber :
  • vstory

Indonesian Women In Tech “Programming with Phyton”, merupakan salah satu kegiatan yang diadakan untuk menghadirkan pembelajaran dasar bahasa pemograman Phyton khusus, dari, oleh, dan untuk perempuan di Indonesia.

img_title Sidang Perdana Dua Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18-19 Agustus

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan, “Penting bagi kita untuk terus mengembangkan partisipasi perempuan di sektor-sektor strategis, secara khusus sektor digital. Untuk mengoptimalkan potensi perempuan Indonesia yang semakin berdaya, peningkatan keterampilan untuk menjadi lebih tanggap dan adaptif akan terus kita dorong.”

Para perempuan yang sudah memiliki keterampilan digital yang memadai telah memberi kontribusi yang signifikan bagi pembangunan negara, khususnya dalam bidang literasi digital nasional.  

img_title 3 Aplikasi AI yang Memudahkan untuk Pelajaran Sekolah 2026: Solusi Cerdas Mengatur Jadwal, Tugas, dan Catatan

Tak sedikit nama-nama perempuan yang telah berjuang dan akhirnya sukses mencantumkan nama dan karyanya di banyak platform media sosial hingga majalah-majalah bergengsi seperti Forbes 30 Under 30.

Dua nama perempuan yang memiliki keterlibatan dalam menyukseskan program literasi digital nasional dapat dilihat dalam ceritanya singkatnya di bawah ini.

img_title Fadli Zon Tanggapi Soal Kabinet Bayangan: Silahkan Kritik, Asal Punya Dasar Kuat

1.    Alamanda Shantika

Alamanda Shantika bersama Nadiem Makariem merupakan salah satu karakter di balik layar dalam pengembangan aplikasi GoJek. Alamanda sangat tertarik dengan matematika dan mulai memprogram sejak usia dini.

Dia melatih keterampilan pemrogramannya dengan membuat blognya sendiri yang menampilkan esai, puisi, dan desain. Alasannya membangun Go-Jek sebagai startup adalah dengan dasar kesadaran sosial. Menyadari bisa membantu banyak orang dengan GoJek, semangatnya untuk membangun startup lain pun semakin membara.

Saat menjadi salah satu leader  GoJek, Alamanda percaya bahwa tugas leader adalah menciptakan leader lain. Karena itu, ia ingin mengedukasi orang lain untuk "menjadi seperti Nadiem Makarim, yang memecahkan masalah dengan teknologi digital".

Tantangan bagi Alamanda adalah masih adanya kesenjangan pengetahuan sehingga masyarakat di pelosok Indonesia belum mengenal internet dan segala fungsinya. Alamanda telah bergerak meluncurkan 1000 startup dengan tujuan untuk mempelajari fenomena startup di Indonesia, membangun ekosistem startup, dan berbagi pengetahuan yang diperoleh bahwa semua individu, bahwa tidak hanya membutuhkan hard skill tetapi juga soft skill.

2.    Nashin Mahtani

Berangkat dari kekhawatirannya akan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, Nashin Mahtani bergerak mendirikan sebuah organisasi non-profit untuk pemetaan bersumber dari kerumunan secara real-time bernama Yayasan Peta Bencana untuk Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut