Mobil Listrik Sudah Murah Tapi Konsumen Masih Ragu, Ternyata Ini Biang Keroknya

Ilustrasi mobil listrik / cas kendaraan listrik
Sumber :
  • VoxPop/Krisna Wicaksono

Tangerang Selatan, VoxPop - Harga mobil listrik di Indonesia terus bergerak semakin kompetitif. Berbagai model baru kini hadir dengan banderol di bawah Rp300 juta, sehingga semakin banyak pilihan bagi konsumen. Namun, murahnya harga ternyata belum menjadi jaminan masyarakat langsung beralih ke kendaraan listrik.

img_title Honda Buka Harga Super One, Klaim Sudah Banyak yang Pesan

Ekonom Josua Pardede, mengungkapkan bahwa hambatan terbesar adopsi mobil listrik saat ini bukan lagi soal harga. Berdasarkan hasil survei yang dipaparkannya, masyarakat justru lebih memikirkan kepastian saat menggunakan kendaraan listrik dalam aktivitas sehari-hari.

"Ketiga hambatan teratas semuanya berkaitan dengan kepastian, bukan berkaitan dengan gaya. Konsumen tidak berkata kendaraan listrik terlalu mahal. Mereka berkata mereka tidak yakin apa yang terjadi kalau nanti ada masalah di tengah perjalanan," ujarnya di sela GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan.

img_title Investasi Pabrik Mobil Masih Tersendat, Purbaya Minta Pelaku Industri Langsung Lapor

Menurut Josua, terdapat tiga kekhawatiran utama yang masih membayangi calon pengguna mobil listrik, yakni keandalan kendaraan ketika mengalami kendala, keterbatasan jarak tempuh, serta masih terbatasnya fasilitas pengisian daya atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Sebaliknya, alasan masyarakat mulai melirik mobil listrik justru datang dari potensi penghematan biaya operasional dan manfaatnya terhadap lingkungan. Kedua faktor tersebut menjadi daya tarik terbesar dibandingkan sekadar mengikuti tren kendaraan elektrifikasi.

img_title VinFast Tak Gentar dengan Perang Harga Mobil Listrik di Indonesia

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar otomotif Indonesia saat ini sedang berada dalam fase pencarian teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Indonesia tidak sedang mencari satu teknologi pemenang. Konsumen sedang mencari kecocokan antara teknologi, kebutuhan, kemampuan finansial, dan pola pakainya," kata Josua.

Menurutnya, hal itu tercermin dari pertumbuhan berbagai jenis kendaraan elektrifikasi yang terjadi secara bersamaan. Mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sama-sama mengalami peningkatan penjualan sepanjang semester pertama tahun ini.

Data yang dipaparkan Josua menunjukkan kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) masih menjadi penguasa pasar dengan pangsa sekitar 44,8 persen. Sementara BEV telah mencapai sekitar 21,7 persen, HEV sebesar 12,5 persen, dan PHEV sekitar 1,5 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut