Tempe, Tahu, dan Kemandirian Kedelai
- vstory
Kementerian Perdagangan RI perlu meningkatkan sosialisasi dan pendampingan kepada konsumen ihwal kenaikan harga tahu tempe di pasaran. Usulan lainnya ialah menambah subsidi bagi pelaku usaha. Pemberian subsidi kedelai sampai Rp3.000 per kilogram diperlukan, karena pengusaha tahu tempe sudah tidak kuat menambah permodalan usaha dalam membeli bahan baku kedelai, sehingga dapat menjaga kelangsungan usahanya. Selain itu, bagaimana mempertahankan daya beli masyarakat akan konsumsi tahu tempe, khususnya kalangan berpenghasilan rendah, yang menjadi sebagian besar konsumen pangsa pasar pangan hasil olahan kedelai tersebut.
Varietas Unggul
Kedelai lokal yang saat ini banyak dibudidayakan petani sering dianggap kalah menarik dari kedelai impor. Ukuran butir kedelai lebih kecil serta tidak seragam, kulit ari sulit terkelupas saat proses pencucian, serta proses pembudidayaan yang memakan waktu lebih lama.
Kita harus mendukung upaya penggunaan varietas unggul kedelai lokal Indonesia dan perluasan lahan budidayanya. Varietas unggul kedelai di Indonesia telah cukup banyak jenisnya, tetapi hanya sekitar 15 persen yang berkembang luas. Varietas kedelai yang dilepas pemerintah pun sebenarnya sudah mempunyai sifat yang unggul dan diminati petani dan pasar, yaitu berbiji besar seperti varietas Anjasmoro, Argomulyo, Grobogan, dan Dega 1. Kedelai dengan masa tanam pendek atau disebut umur genjah dicirikan dengan umur masak yang kurang dari 80 hari juga ada, di antaranya Baluran, Deva 1, dan Grobogan.
Sentral pembibitan dan pembudidayaan yang optimal bagi tanaman kedelai di banyak tempat akan membantu mengedukasi para petani terkait varietas unggul ini. Jangan sampai petani yang berperan penting dalam membudidayakan tanaman kerap kali menjadi kelompok yang paling terakhir mendapat kebaruan informasi, termasuk mengenai varietas-varietas terbaru yang ada. (Suparna, Statistisi Madya BPS Provinsi DIY)
